Pelatihan itu hampir saja saya akhiri, sebelum akhirnya dua mahasiswa tiba. Satu laki-laki, satu lagi seorang perempuan bercadar. Tentu, perempuan itu membetot perhatian. Apalagi, ketika itu acara diselenggarakan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tingkat fakultas di UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang.

Kita tahu, PMII adalah organisasi kepemudaan yang dekat dengan Nahdlatul Ulama’ (NU). Dengan nilai moderat yang dijunjung, sangat jarang untuk tidak menyebutnya tidak ada kader NU yang memakai cadar. Pada siang yang basah itu, saya menyaksikan pemandangan yang tak lazim.

Tak lazim karena pelatihan jurnalistik yang digelar sabtu (18/3) lalu itu, pesertanya adalah kader  PMII. Otomatis, perempuan berhijab itu adalah kader PMII. Belakangan saya tahu kalau dia adalah kader PMII putri dari salah satu kampus swasta di Sidoarjo. Dia datang telat, mungkin karena jalanan Sidoarjo-Malang yang macet di akhir pekan.

Saat perempuan bercadar itu nimbrung dalam pelatihan, saya menjelaskan tentang peran wartawan. Menurut saya, wartawan adalah makhluk yang subjektif. Dalam menulis berita, ada banyak subjektifitas yang mempengaruhi wartawan. Tidak ada yang benar-benar objektif.

Semisal wartawan yang merupakan alumni PMII. Jika memberitakan tentang kisruh antara PMII dan HMI, otomatis wartawan ini akan membela organisasi yang pernah dia ikuti. Itu baru contoh tentang organisasi di kampus. Belum lagi masalah agama, hobi, ras, dan lain sebagainya. Jika dalam filsafat ada istilahnya ilmu pengetahuan yang tidak bebas nilai, maka sejatinya berita yang ditulis wartawan tidak pernah bebas nilai.

Contoh lain, wartawan yang sering membela pabrik semen, bisa dipastikan dia lebih banyak akrab dengan pejabat pabrik semen, dibanding warga kendeng yang mengecor kakinya di depan istana. Begitu juga dengan wartawan yang membela nelayan atau perusahaan reklamasi, tergantung latar belakang wartawan tersebut.

Dari hal sepele itulah, subjektifitas bekerja dalam penulisan berita. Nah, bukan berarti subjektifitas buruk. Kadang, subjektifitas justru lebih baik dari objektifitas. Subjektifitas yang baik itu adalah subjektifitas yang berpihak pada hati nurani.

Jadi, ketika ada dua peristiawa berbeda. Yakni seorang petani mengecor kakinya di depan istana, dan humas perusahaan semen plat merah menyampaikan rilis keberhasilan mereka menyumbang pendapatan kepada negara, jika hati nurani yang bekerja, maka yang ditonjolkan dalam berita adalah seorang petani yang menyemen kakinya.

Lalu menjadi tindakan konyol kalau dua berita ini dimuat dalam porsi yang besarnya sama. Atau, lebih konyol lagi jika yang ditonjolkan adalah keberhasilan pabrik semen. Subjektivitas yang berdasarkan hati nurani, akan membela mereka yang alpa. Toh, kata seorang jurnalis senior Farid Gaban, salah satu fungsi media adalah menyuarakan yang tak bersuara. Itu hanya bisa dilakukan jika subjektifitas yang diikuti berdasarkan hati nurani, bukan subjektifitas berdasararkan pemasang iklan dan pemilik media massa.

Pada kesempatan itu, sejatinya saya ingin menyampaikan satu hal: yakni wartawan harus punya sikap. Nah, agar saya mempunyai alasan untuk mengolor-ngolor waktu pelatihan, dan agar perempuan berhijab itu tidak merasa terasing, saya singgung kalau moderat yang dijunjung PMII juga harus punya sikap.

Jika PMII mengaku sebagai organisasi yang terbuka terhadap perbedaan, seharusnya mereka juga terbuka terhadap orang-orang yang bercadar. Kita tahu, yang jamak kita temui akhir-akhir ini, adalah orang yang mendaku seorang pluralis, tapi justru menganggap merekalah yang merasa benar sendiri. Sedangkan orang-orang bercadar dicap bersalah.

Dari gesture semua orang yang hadir di pelatihan itu, semua dari kita seolah memandang aneh perempuan yang berpakaian cadar itu. Tapi, itu menurut saya patut dimaklumi. Lantaran, di tengah gembar-gembor tentang kebhinekaan, sejatinya alam bawah sadar kita masih menyimpan keaenahan jika bertemu dan bersinggungan dengan yang beda.

Seorang reporter pria tirto.id pernah menyamar menjadi perempuan yang bercadar. Dia merasakan stereotipe yang buruk di ruang publik. Saat dia memakan makanan barat di sebuah mall di Jakarta, seorang remaja berusaha memotretnya. Menurut reporter ini, mungkin dia akan dijadikan bahan lelucon di media sosial karena ada perempuan bercadar yang makan makanan barat.

Sedangkan saat berjalan, reporter ini merasa kalau dia selalu menjadi pusat perhatian. Stereotipe yang seperti ini, menurut saya sejatinya alam bawah sadar tidak sepenuhnya bisa menerima dengan yang beda. Sekalipun, kadang kita sering meneriakan pluralisme dan kebhinekaan.

Karena berbagai stereotipe itu, sejumlah perempuan bercadar di Jakarta rutin menggelar pertemuan. Pertemuan ini jugalah yang diikuti wartawan tirto,id. Intinya, mereka yang bercadar ingin diperkuat mentalnya, agar tidak mudah goyang. Ini karena ada stereotipe yang buruk tentang perempuan bercadar. Padahal, kata sumber tirto.id itu, cadar tidak ada hubungannya dengan bom.

Selanjutnya, karena saya penasaran dengan anak PMII yang bercadar. Saya meminta nomor anak tersebut ke panitia. Namanya jauh dari kesan Arab, yakni Natasya. Di foto profil whatsapp-nya, dia terlihat memakai cadar. Dia juga punya instagram, yang isinya kebanyakan fotonya sedang memakai cadar.

Dia mengaku kalau ikut PMII sejak awal kuliah, dan sejak sebelum kuliah sudah bercadar. Di PMII, dia ingin mendalami Ahlusunnah Wal Jama’ah (Aswaja).”Dari dulu saya tidak tertarik pada HTI (Hizbut Tahrir Indonesia),” katanya menjawab pertanyaan saya kenapa tidak ikut organisasi seperti HTI atau Kammi. Dia juga mengakui kalau di PMII ingin belajar tentang gender.

Selama bercadar, Natasya mengaku pernah mendapatkan streotripe negatif. ”Dibilang ISIS, HTI dan teroris, saya memilih diam saja.” Di keluarganya, hanya dia yang bercadar. Ibu dan saudara-saudaranya tidak ada yang bercadar. Dan menurut dia itu sah-sah saja, karena dalam Alquran perempuan hanya wajib menutup auratnya. Yang disebut aurat adalah seluruh tubuh kecuami telapak tangan dan wajah.

Selanjutnya, menurut saya keberadaan kader seperti Natasya di lingkungan PMII, bisa jadi adalah ujian. Yakni ujian kedewasaan PMII dalam menerima perbedaan. Saat saya masih kuliah, ada kader PMII yang beragama kristen. Sebagaimana kader yang lain, kader yang kristen tersebut diberlakukan seperti biasanya. Nyaris tidak ada diskriminasi.

Jika ujian berupa kader dari agama lain sudah dilalui, maka ini ujiannya adalah dari kader yang agama-nya sama, tapi cara memaknai pakaian yang berbeda. Jika bisa melewati itu, saya kira PMII akan tumbuh lebih dewasa. Meskipun, tentu saja itu tidak mudah. Apalagi, PMII selama ini sudah terlanjur pendapatkan cap sebagai anak ideologis Nahdlatul Ulama’ (NU) yang terlalu ’nakal’. Ada yang menyebut kalau organisasi ini setengah liberal, karena lebih suka mempelajari sejarah karl marx dibanding sejarah nabi-nabi.

Lalu, mampukah PMII melewati ujian itu? Saya kira waktu yang akan menjawab.

*Penulis adalah wartawan tinggal di Malang. Alumni PMII.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here