MALANG— Pemuda yang tergabung dalam Lingkar Belajar Musik dan Literasi (Liberasi) yang berdiri sejak Juni 2017 memiliki tujuan dan semangat yang sama, untuk belajar dan berbahagia dengan cara meliterasikan musik sebagai wujud cinta tanah air dan bangsa. Hal itu tercatat dalam perjalanannya, 10 Juni 2017 perdana Liberasi digelar dengan tajuk Ngaji “Lagu Indonesia Raya”, bersama Kristanto Budiprabowo, Desa Kota dan Pagi Tadi. Volume kedua dengan tajuk “Seni Mengapresiasi Manusia” bersama Budi Dalton, Redy Eko Prasetyo, Gilang Jaduk, Kristanto Budiprabowo, Benu dan Gus Dakar, 19 Oktober 2017.

Liberasi volume ketiga, 25 November 2017 dengan tajuk “Senar Putus Sebelum Dipetik”, mengkaji tentang literasi gitar bersama Dareos Gitar, Genta Guitar dan Iksan Skuter. Sedangkan Liberasi keempat, dipenghujung tahun 2017 dihadiri oleh mas Bechi dari Sehat Tentrem.

Tahun lalu adalah perjalanan awal Liberasi yang penuh harap untuk turut berkontribusi membangun Indonesia melalui musik dan literasi. Tiga volume itu menjadi semangat awal tim Liberasi, yang terdiri dari W Sanavero, Al Muiz Liddinillah, Zidni dan Santos untuk menghadirkan Liberasi dalam format baru. Format baru itu mengawali Liberasi kelima, perdana di tahun 2018 dengan Nonton Bareng (Nobar) dan Diskusi Film Wage, 9 Maret 2018.

Nobar dan diskusi film Wage ini merupakan tindak lanjut dari liberasi pertama. Bedanya, jika yang awal lebih mengupas pada mahakarya Wage (WR Supratman), lagu Indonesia Raya dari multiprespektif, maka Liberasi edisi Wage ini mengupas sosok WR Supratman secara mendalam. Selain itu, Liberasi edisi Wage ini spesial untuk ulang tahun pahlawan berdawai, WR Supratman, 9 Maret 1903.

Film Wage yang diproduksi Opshid Media yang diprakarsai oleh M. Subchi Azal Tsani eksekutif produser adalah film yang mengeksplorasi perjalanan kepahlawanan WR Supratman dalam melahir lagu-lagu kebangsaan, salah satunya “Indonesia Raya”. Film ini dibuat untuk terus mengenang jasa beliau sebagai pahlawan dan dapat meneladani aksi-aksi kepahlawanan dalam konteks kekinian. Ivan Nugroho, Direktur PT. Opshid Media Untuk Indonesia Raya mengatakan ide pembuatan film ini berdasarkan pada pemikiran bahwa apresiasi yang disematkan untuk pahlawan Wage Supratman tidak berbanding lurus dengan jasa besar beliau untuk bangsa Indonesia. Selain itu, Kyai Mochammad Muchtar Mu’thi, sang Maha Guru yang juga selaku Supervisi Film, selalu menekankan bahwa kunci menuju bangkitnya bangsa Indonesia, tertutama generasi muda atau milenial, adalah kembali ke jati diri bangsa.

“Wage telah berhasil membuat La Marseillase ala Indonesia. Kecintaannya kepada musik membawanya ke dalam kesadaran penuh untuk membangun nilai luhur Indonesia yang bhineka, melalui mahakaryanya, Indonesia Raya. Ia telah menyulut api pergerakan pemuda 1928 untuk mencintai Indonesia dengan sepenuh hati, jiwa dan raga. Bangunlah jiwanya, bangunlah raganya, untuk Indonesia Raya. Semangat juang Wage patut diteladani oleh generasi muda saat ini, dengan cara apapun. Bisa melalu seni, sastra, budaya atau keterampilan lainnya”, ujar Al Muiz Liddinillah, penggagas Liberasi sekaligus kamituo Gubuk Tulis.

Sedangkan W. Sanavero, penggagas liberasi dari Srawung Media menambahkan tentang sosok Wage dan perjuangannya. Perjuangan yang dilakukan Wage juga perlu digarisbawahi. Wage mengajarkan kepada kita semua bahwa perjuangan tidak harus melalui pertumpahan darah, tapi juga dapat melalui seni dan karya. Hal itu perlu dipahami sebagai landasan generasi muda untuk berkarya atau berkontribusi untuk negeri, yaitu berkarya untuk negeri melalui jalan pembebasan dan keadilan.

Liberasi edisi Wage telah diselenggarakan pada hari Jumat, tanggal 9 Maret 2018, di home theater UIN Maualana Malik Ibrahim Malang. Acara terdiri dari apresiasi seni, nobar film Wage dan diskusi. Diskusi dipandu oleh Zidni, adapun yang membahas sosok Wage lebih dalam di antaranya ada Iksan Skuter (musisi), Kristanto Budiprabowo (budayawan) dan Ivan Nugroho (direktur Opshid Media).

“Setia kepada Indonesia Raya, setia kepada lagu Indonesia Raya yang telah kita ikrarkan bukan saja menjadi lagu kebangsaan, tetapi pula menjadi lagu Negara kita. Permintaan bathin kita ialah Allah SWT menjadikan Indonesia Raya ini menjadi lagu kebangsaan, lagu bangsa kita sampai akhir zaman pula. Jangan ada sesuatu golongan memilih lagu baru, setialah kepada lagu Indonesia Raya, setialah kepada Pancasila”.

(Potongan pidato Bung Karno ini diambil penulis dari buku ‘Wage Rudolf Supratman’ karya Bambang Sularto yang diterbitkan Kemendikbud, 2012).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here