Papan-papan protes banyak tertancap pada sebilah kayu di area persawahan ini. Hamparan persawahan yang kuyakin menjadi topangan hidup semua masyarakat di sekitarnya. Entah kenapa semua menjadi sunyi sepi tanpa penghuni, tanpa terlihat aktivitas manusia satu pun kecuali aku yang berdiri kaku. Bibir kelu dengan isi kepala penuh pengandaian dan mencari-cari apa yang sebenarnya telah terjadi. Isi pikiran yang penuh tanda tanya ini kucoba tutup dengan topi untuk menahan panas matahari yang sangat menyengat siang ini. Dan kupikir bukan karena panas matahari semata yang membuat persawahan ini sepi. Sepanjang pandangku hanya melihat sisa-sisa papan protes dan juga garis pembatas berwarna kuning bertuliskan larangan untuk melintasinya.

Aku mencoba mencari siapapun untuk jadi teman penasaran dan kebingunganku ini. Supaya kutemukan jawaban tentang teka-teki yang layaknya sebuah labirin yang nyata dibuat oleh seseorang yang sedang duduk dalam persembunyiannya.

Kulanjutkan langkah kaki dengan pandangan curiga kesana kemari. Kubaca satu persatu papan-papan bertuliskan kata-kata protes itu. Papan-papan yang tak nampak saat aku melihat hamparan sawah yang menguning ini di perjalanan menuju puncak gunung merapi beberapa hari yang lalu. Bahkan karena pesona yang begitu indah, kuning emas persawahan yang tampak bagai hamparan emas itulah akhirnya kuputuskan untuk menunda pulang ke Jakarta usai mendaki gunung merapi. Memilih mencari hamparan emas itu. Dan anehnya hamparan emas itu ternyata sangat sepi dan banyak bilahan-bilahan kayu yang tertancap dengan papan-papan bertuliskan kata tolak, bahkan hujatan.

“tolak dibangun lapangan terbang”

“tolak kebisingan kecapung terbang”

Dua papan pertama kubaca hati-hati dengan sedikit tertegun karenanya. Persawahan yang siap panen ini ternyata sebuah lokasi terpilih yang akan dibangun lapangan terbang oleh pemerintah.

“keindahan hamparan emas ini tak akan kau lihat nak”

Ucapku perlahan seraya berbisik pada foto mungil bayi kecilku yang sedang di rumah bersama istri. Aku memang sengaja melakukan pendakian gunung merapi bulan ini karena permintaan istriku, yang tak bisa menyambangi kelompok warga di kaki gunung merapi. Kelompok warga yang beberapa tahun terakhir menjadi tempatnya menuai banyak inspirasi karena keterlibatannya dalam mendirikan sekolah gratis untuk anak-anak gunung itu.

Setelah setahun penuh dia beraktivitas di tempat tersebut, akhirnya dia pulang ke Jakarta pasca menikah denganku. Ketidaksengajaan  berjumpa ketika aku sedang melakukan ekspedisi tanaman obat di gunung merapi yang juga kulakukan secara rutin bersama komunitasku. Aku pun melibatkan pada pengabdiannya dengan setiap bulan akan mengunjungi kelompok warga itu. Karena pasca setahun setelah istriku memutuskan untuk ke Jakarta, sudah banyak bermunculan anak-anak muda yang mampu menjalankan sekolah yang dikenal sebagai sekolah “Anak Gunung” itu. Sehingga tidak perlu kami untuk selalu bersama mereka setiap saat, melainkan cukup untuk rutin sebulan sekali berkunjung.

“mas, tolong jangan disini”

Suara orang berbadan tegap itu mengagetkanku. “kenapa mas?” tanyaku padanya dengan sedikit memendam amarah karena kaget yang membuatku hampir pingsan tadi.

“ini dalam sengketa mas”

“jangan banyak tanya dan segera pergi!!!!”

Negeriku yang aku kenal sebagai negeri yang ramah ini dinodai oleh sekelompok cecurut kaki tangan penguasa feodal yang sengaja menghilangkan sifat ramah untuk menakut-nakuti setiap orang, khususnya orang-orang desa yang tak tahu menahu persoalan politik. Bahkan tanah yang menjadi haknya pun terkadang diserobot paksa dengan dalih meningkatkan kesejahteraan negara. Aneh betul negeri ini lebih memilih membahagiakan orang-orang yang sudah tidur diatas empuknya busa kasur dibandingkan menyapa santun pada gelandangan di pinggir jalan, atau petani yang rela punggungnya legam karena mencangkul di bawah terik panas matahari.

Aku memilih pergi dengan luapan amarah yang meletup-letup dalam didihan panas kepala ini. Perlahan kucabut patok yang jadi tempat ikatan garis penghalang berwarna kuning itu. Dan sontak semua garis pengahalang itu roboh dan tak nampak lagi tertelan padi yang tengah menguning itu.

Sedikit kupicingkan mata ke arah sosok penegur tadi, ia tampak gusar dan marah, namun ia menahannya. Mungkin ia sadar bahwa ia harus mengontrol emosinya untuk menjaga kepastian gajinya. Ia adalah para penjaga yang dimanfaatkan sebagai pengusir para petani yang ingin mempertahankan tanah sawahnya. Petani-petani itu diusir karena dianggap sebagai pihak yang akan menghambat dibangunnya lapangan terbang itu. Langkah kakiku tak menyurutkan pikiranku untuk terus melayang-layang penuh gejolak penasaran bahkan pesakitan.

“nyuwun sewu pak”[1]

“boleh saya numpang istirahat di sini”

Akhirnya kuhentikan langkahku di sebuah gubuk bambu yang dihuni nenek dan cucunya yang masih seumuran sekolah dasar.

“ndak sekolah dek”

“libur mas, niki badhe ngrumput”[2]

Dengan kepolosan wajahnya, ia berjalan menuju hutan untuk mencari rumput. Katanya untuk membantu nenek, agar sapi-sapinya gemuk. Supaya harganya mahal ketika dijual, dan uangnya akan menjadi jurus utama untuk menolak para investor yang ingin menyerobot tanah sawahnya.

Dan akhirnya semua ini adalah sebuah dilema antara kemajuan bahkan keberpihakan, atau mungkin kepentingan. lapangan terbang yang dipandang lebih penting oleh pemerintah untuk hanya nampak sekedar sebagai negara maju, ia rela menggusur sistem sosial masyarakat yang telah lama dibangun oleh leluhur masyarakat tersebut. Hati ini ingin berteriak kencang sembari menghujat para investor dan kawannya, juga ingin menangis melihat adik kecil yang begitu polos dan tulus serta penuh keberanian untuk melawan investor dengan caranya sendiri.

“hati-hati dek kalo ke hutan”

“iya mas” jawabnya sembari membawa karung dan sabit di tangan kanan dan kirinya. Nampak penuh semangat ia berjalan menuju hutan untuk mencari rumput sapi-sapinya.

“siyen pados suket saget teng sawah niki nak”[3]

“mboten sah teng wono”[4]

Suara nenek itu kupahami perlahan, semenjak aku dan istriku aktif mendampingi sekolah Anak Gunung di lereng merpai, aku sedikit banyak belajar bahasa jawa, khususnya bahasa sopan atau orang jawa menyebutnya bahasa kromo inggil[5]. Ooo ternyata bukan hanya sawah yang tidak boleh dipanen, untuk mencari rumput pun dilarang oleh pihak asing itu. Entah kenapa aku lebih suka menyebutnya pihak asing meski ia juga warga negara ini, sebab mereka datang ke wilayah orang lain untuk bertamu tetapi justru merusak sistem sosial yang ada. Apa lagi sebutan orang yang seperti itu, kalau bukan disebut sebagai orang asing.

“duduk sini nak, minum dulu”

“nggeh mbah, matur suwun”[6]

Aku duduk di samping nenek yang sedang berkipas-kipas karena panasnya udara siang ini. Kutuangkan air minum dari kendi[7] yang ada di depan nenek, kemudian meminumnya seolah aku berada di tengah panasnya gurun pasir. Aku minum bahkan dua kali karena dahagaku serasa sangat akut siang ini. Dan tak kusadari aku begitu nyamannya sambil bersandar di dinding bambu gubuk tua milik nenek ini, dengan sesekali hembusan angin, aku sedikit memulai perbincangan dengan nenek. Tak kusangka nenek ini akan berkisah panjang lebar kenapa desanya kini sepi, dan sawah yang tinggal panennya ini ditinggalkan oleh banyak pemiliknya.

Semenjak bulan lalu, tetangga samping rumah mulai saling mengungsi nak. Kebanyakan dari mereka bahkan semuanya sebenarnya tidak mau meninggalkan area ini nak. Coba bayangkan saja, jika mata pencaharian sekaligus tempat tinggal mereka harus diambil oleh pemerintah. Ini sebenarnya proyek untuk kesejahteraan kami atau proyek untuk lebih mengenyangkan para pejabat korup, sehingga begitu teganya mereka-mereka itu mengusir kami dari tanah yang telah kami rawat sejak leluhur kami. Kami sadar bahwa kami akan kehilangan bukti historis kami dengan leluhur kami, karena tanah kuburan keluarga ataupun punden[8] desa kami tak luput dari gusuran pastinya.

Banyak kejadian miris di sekitar kami akhir-akhir ini nak, terakhir adalah ada salah satu warga yang diteror dengan didatangi banyak orang membawa senjata, katanya dia dianggap provokasi untuk melawan negara. Aneh betul negeri ini, kami yang berusaha merawat tanah leluhur kami, bahkan dianggap sebagai pemberontak negara. Lalu siapa sebenarnya mereka yang tiba-tiba datang dengan sok kuasanya pada kami yang mayoritas petani ini.

Negeri ini terlalu menganggap profesi petani identik dengan warga negara miskin, sehingga akan sangat bahagia hanya dengan diperlihatkan banyak lembaran uang, atau janji beralih profesi di sekitar bangunan megah yang akan ia bangun. Tapi mereka salah, kami sudah begitu nyamannya hidup dengan bertani, justru kami mampu untuk banyak berbagai dengan bertani. Coba bayangkan saja nak, ketika kami akan mulai menanam padi, kami akan mengadakan syukuran dengan tetangga sekitar, begitu pula ketika kami akan panen. Itu hanya contoh cara kami untuk berbagi satu sama lain. Belum lagi dengan alam ini, kami juga setidaknya bersedekah pada burung pipit yang mencari makan di atas persawahan kami, kami jarang menganggap ia hama, karena seberapa besar sih tembolok mereka, jika kita harus menganggap ia hama. Jika penyuluh pertanian datang menyebut burung pipit itu hama, tak lebih adalah itu akibat sistem baru yang bukan dari nenek moyang kami yang ia ajarkan pada kami untuk merawat sawah ini.

Saya sebenarnya kasihan pada cucuku, dia bahkan memilih merawat sapi-sapi di belakang rumah daripada harus bersekolah. Ia nampak tak percaya lagi pada sistem yang dibangun di sekolah, sebab pengertian orang baik begitu sempit bagi mereka. Bahkan syarat berbuat baik begitu berat, sehingga kami para petani ini dianggap kurang berkontribusi bagi negara dibanding mereka-mereka yang keluar masuk luar negeri dengan hanya sekedar menyebut nama negera ini saja. Dan ujung-ujungnya mereka kembali ke negara ini untuk merusak tanah ini, sistem sosial yang sudah lama kami rawat.

“kok sak niki sepi”[9]

“tiang-tiang sami ten pundi mbah?”[10] tanyaku pada nenek karena aku penasaran sejak aku menginjak tanah ini. “mereka sudah tidak punya cara lagi untuk mempertahankan tanah ini” jawab nenek sembari mengusap air mata yang tiba-tiba jatuh. Nenek menyuruh mereka semua pergi dan untuk selalu menjadi satu, jangan pernah terpisah satu sama lain. Namun nenek gagal menyuruh cucu nenek untuk ikut mereka, cucu nenek memilih menemani nenek dan berani mati melawan mereka (korporasi). Bukan berarti semua warga tak berani mati seperti cucu nenek, tapi mereka nenek sarankan membentuk kampung baru yag serupa di tengah hutan, terlalu sia-sia jika mereka semua mati sia-sia. Bagi nenek proyek ini tak bisa lagi dihentikan, kami harus menjaga hutan yang tersisa ini dengan hidup di dalamnya, dan bergantung padanya, bukan pada bantuan negara yang dihuni oleh asing semua.

Nenek disini berani mati, dan tak melarang cucuku ini untuk melihat perlawanan berdarah ini. Sebab nenek ingin menyampaikan pesan bahwa jika negara berhasil merebut kampung dan sawahnya ini bukanlah sebagai bentuk kemenangan. Sebab kemenangan yang mereka itu, diiringi kematian banyak orang salah satunya adalah nenek nantinya. Sebab kematian ini akan menjadi awal dan akan banyak terjadi pembunuhan lagi, dan itu artinya adalah sebuah kegagalan. Sekaligus cucuku ini akan kusuruh lari mengikuti semua orang kampung ini untuk merawat hutan, setelah melihat neneknya ini sekarat di depan matanya. Nenek hanya ingin menyampaikan pada mereka bahwa jangan sampai negara merusak hutan yang sudah menjadi hunian nyaman anak cucuku untuk kedua kali. Jika itu terjadi, maka anak cucuku bahkan hutan atau pun alam ini tak sekedar membuat peringatan. Melainkan akan melakukan pembalasan dendam dan menenggelamkan semua bengunan yang mereka anggap megah ini. Supaya tumbuh lagi pohon, maka mayat manusia asing inilah sebagai pupuk untuk menjadikan subur tanahnya.

“jenengan rela sedo teng mriki mbah?”[11]

“iyo le”[12]

“pokok ojo sampek wong-wong asing iku ngrusak anak putuku kaping pindone”[13]

“yen iyo, aku bakal nesu lan alam bakal ngewangi aku mulehne alam iki gae corone mbah-mbahku le”[14]

Tak kusangka aku pun gemetar mendengarnya, saat itu juga aku sepakat dengan hati nurani untuk tak kembali ke jakarta. Anak istriku kuberi kabar, bahwa aku masih ada tugas dan menunda pulang. Sebab aku akan membela sampai mati pula supaya nenek dan cucunya ini bisa bertahan disini. Bahkan aku bercita-cita agar semua penduduk kembali ke tanahnya ini. Tanpa harus berpindah tempat dan membangun sistem sosial ulang mereka. Sebab tak perlu menunggu terjadi kedua kalinya perebutan tanah masyarakat, jika yang satu ini masih ada kesempatan untuk dipertahankan, meski hanya oleh segelintir orang saja.

“mas tolong minggir ada rombongan presiden lewat”

Ahhh bangsat, suara itu mengagetkanku. Ternyata aku baru saja masuk ke dalam sebuah alam dengan pertemuan aneh yang kualami barusan. Apa mungkin nenek itu sengaja menemuiku dengan membawa ingatanku pada masa lalu tentang lapangan terbang ini. Nampaknya korban begitu banyak sebelum dibangun bandara internasional ini. Tak kusangka aku mendapatkan pesan aneh sebelum akhirnya aku memutuskan untuk tak jadi berangkat ke luar negeri untuk kelanjutan studiku. Aku telah tersadarkan bahwa negeri ini telah mempunyai sistem pendidikan sendiri, tentunya sistem pendidikan yang telah diberikan oleh leluhur kami semua.

Akhirnya ku putuskan pulang dan melakukan perjalanan untuk mencari sebuah hutan alami dengan manusia-manusia yang digusur itu disepanjang hutan belantara pulau jawa.

Abdul Muhaimin

Peserta sekolah EKOLOGI 2 WALHI jatim

[1] Permisi pak

[2] Libur mas, ini mau merumput

[3] Dulu mencari rumput bisa di sawah ini nak

[4] Tidak perlu ke hutan

[5] Tingkatan bahasa komunikasi dalam bahasa jawa yang digunakan ketika berbicara kepada orang yang lebih tua

[6] Iya nek, terima kasih

[7] Tempat air yang terbuat dari tanah liat

[8] Tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat

[9] Kok sekarang sepi

[10] Orang-orang pada kemana nek?

[11] Nenek rela meninggal dunia disini?

[12] Iya nak

[13] Pokoknya jangan sampai orang-orang asing itu mengganggu anak cucuku untuk yang kedua kalinya

[14] Kalau iya, aku akan marah dan alam akan membantuku memulihkan alam ini dengan cara leluhurku dahulu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here