Orientasi mahasiswa baru mungkin merupakan hal terindah dalam sejarah awal perkuliahan untuk mahasiswa baru. Karena disitulah pembuktian jati diri bahwa dirinya berhasil memasuki jenjang pendidikan selanjutnya menandakan siklus kehidupan berjalan. Apalagi  jika orientasi tersebut dirasakan oleh mahasiswa baru di kampus favorit yang pula merupakan kampus impian mereka. Tapi tidak bagi saya. Bukan karena kampusnya, tapi karena hal-hal yang terjadi selama saya menjalankan orientasi tersebut.

Hari pertama, mau ataupun tidak saya harus beradaptasi dengan atmosfer Kota Malang yang begitu dingin luar biasa. Dituntut pukul enam pagi harus sudah menginjakkan kaki di kampus, walhasil membuat saya harus meninggalkan mimpi-mimpi yang berlalu-lalang. Meski sebenarnya saya sudah terbiasa bangun pagi, tapi menurut saya berbeda kali ini. Belum lagi posisi kost yang berjarak kisar lima belas menit untuk menuju kampus. Belum lagi jika terjebak macet karena harus bertemu banyak traffic light. Tepat pukul enam wajib diri untuk berbaris di lapangan. Telat sedikit saja tak segan tim sadis (satuan disiplin) siap memanggil dan memberi hadiah berupa hukuman. Langsung berbaris di lapangan tanpa ada sarapan terlebih dahulu. Padahal rentetan kegiatan full hingga pukul lima sore. Lucu memang ketika saya menuntut hal tersebut, karena selalu dibantah dengan kalimat “kenapa  tidak makan sebelum berangkat ke kampus?” Bayangkan saja bagaimana anak kost bisa sarapan se pagi itu? Jujur sajalah realitasnya anak perantauan seperti saya apalagi dengan kondisi ekonomi yang minim pasti sarapan dengan mencari warung yang harga minim pula. Dan itu bisa di dapat kisar pukul delapan pagi. Karena memang rata-rata warung buka jam segitu. Suatu hal mustahil jika kost saya menyediakan catering untuk penghuninya. Jadi cara meminimalisir ya dengan memakan mie instan. Amat sangat bergizi bukan? Perut kosong seharian full beraktivitas hanya diawali dengan seporsi mie instan.

Belum lagi rentetan acara yang tidak ada jedanya. Menunggu sudah jadi hal biasa. Tetap dalam tuntutan tidak boleh A,B,C blablabla dengan alasan kedisiplinan. Bahkan sampai-sampai waktu untuk makanpun kami harus mencuri. Acara stadium general menjadi ciri khas dalam orientasi di kampus saya. Jika seperti itu, mana mungkin saya bisa sarapan atau bahkan hanya sekedar mengunyah roti sementara tim sadis selalu berkeliling dan mengatakan bahwa hal tersebut termasuk pelanggaran kedisiplinan. Selama orientasi berlangsung, makan telat menjadi hal yang lumrah dan bisa sedikit saya terima. Yang menjadi hal yang tidak lumrah adalah pekerjaan rumah yang diberikan, yakni menulis shalawat sebanyak tiga puluh tiga shalawat setiap harinya. Orientasi selama tiga hari, otomatis sembilan puluh sembilan shalawat harus terselesaikan. Jika kita bermain logika, dengan kegiatan yang dimulai pukul enam pagi dan berakhir pukul lima sore hanya dengan jeda sholat dhuhur dan ashar, dimana letak manusiawi? Hal itu saya rasa tidak ada bedanya dengan kerja rodi zaman Indonesia dijajah Belanda. Harus menuliskan shalawat dan artinya sebanyak tiga puluh tiga dalam waktu semalam. Kebayang bukan, hanya tidur berapa jam? Jujur saja, selama ospek tersebut saya tidur pukul dua petang hanya demi agar tugas menulis shalawat tersebut terselesaikan. Karena jika tidak, lagi-lagi ada hukuman yang siap diberikan. Tidur pukul dua pagi dan bangun pukul empat pagi.

Setelah tiga hari orientasi tersebut terlewatkan, saya mendapat kabar bahwa kampus saya berhasil memecahkan rekor muri pembacaan dan penulisan shalawat terbanyak. It’s something a joke for me! Entah seketika otak saya tidak bisa berfikir positif lagi. Garis besarnya adalah menggeser kesehatan fisik bahkan psikis maba hanya demi memecahkan rekor muri. Simpelnya yakni menjadikan maba sebagai korban hanya untuk mendongkrak popularitas kampus. Apa itu suatu yang lumrah? Rasanya saya ingin bertemu dengan menteri pendidikan dan meminta agar orientasi dihapuskan saja atau bahkan membuat UU yang tidak memperbolehkan bagi lembaga pendidikan untuk melakukan kegiatan orientasi. Karena menurut pengalaman saya tersebut, orientasi bukan lagi diartikan sebagai pengenalan lingkungan akademik, akan tetapi pembodohan bagi mahasiswa baru yang selalu menggunakan alasan kedisiplinan. Untuk pelatihan kedisiplinan katanya. Apakah definisi disiplin seperti itu?

Tulisan ini saya buat bukan untuk menjatuhkan kampus saya sendiri. Akan tetapi untuk bersama-sama kita duduk dan membicarakan tentang makna dari orientasi itu sendiri. Jika awal saja sudah seperti itu, lalu bagaimana pendidikan selanjutnya? Menurut saya unit pendidikan di  negeri ini salah mengartikan makna dari “disiplin”. Atau bahkan mungkin kamus besar bahasa Indonesia perlu merubah makna dari kata “disiplin” agar sesuai dengan realita yang terjadi selama ini…

 

Dari: Sufi Agam, Mahasiswa Baru Kampus Pergerakan (katanya), Kota Malang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here