[Orasi Jurnalistik Menjelang Berbuka di AJI Padang, Sabtu 2 Juni 2018]

Oleh: Syofiardi Bachyul Jb*

–Tantangan jurnalisme sekarang adalah memisahkannya dari produk seakan-akan jurnalisme–

“BUMI Manusia” adalah istilah yang saya pinjam dari judul novel Pramoedya Ananta Toer yang sekarang hangat dibicarakan di “Bumi Indonesia” karena akan difilmkan. Bumi Manusia adalah tempat makhluk hidup bernama manusia yang dalam kesehariannya menggunakan akal pikiran atau logika. Sedangkan manusia yang derajat intelektualnya lebih tinggi menggunakan pikirannya untuk berdialektika.

Orang Minangkabau mencatatkan diri sebagai manusia yang berpikir melalui falsafah. Dalam bahasa yang sedikit kasar, mereka mengatakan jika akan bicara hendaknya membuka mulut terlebih dulu (“mangango dulu ka mangecek”). Artinya, pikirkan dulu masak-masak sebelum mengeluarkan kata-kata.

Ketika hendak memutuskan sesuatu, mereka mengatakan harus bersilang kayu maka hiduplah api. Tidak ada silang-kata, berdiskusi, yang akan membuahkan sesuatu yang berguna. Yang akan menyelesaikan urusan ekonomi yang paling utama, yaitu makanan. “Bulek kato dek mufakat”, satu keputusan akan didapatkan dengan bermusyawarah, beradu kata untuk mencari solusi.

Semuanya menggariskan bahwa kata, berkata-kata, menyampaikan pikiran, saling adu argumentasi, dialektika adalah puncak dari peradaban, itulah Bumi Manusia. Tempat orang-orang berpikir hidup sama tinggi dan sama rendah, tanpa kekerasan. Ini sejalan dengan prinsip demokrasi.

POTRET BUMI MANUSIA HARI INI
Media sosial memperlihatkan api jika sedang membahas agama dan kekuasaan, seperti pemilihan presiden. Kubu-kubuan telah melahirkan “pokoknya”, menuntaskan suatu posisi sebelum adu argumentasi dan berbeda pandang. Komentar di bawah berita media pers siber penuh dengan caci-maki.

Air telah duluan berpisah sebelum ke pembuluh. Kayu sudah duluan terbakar sebelum masuk tungku. Dialektika masih jauh dari tempat yang dituju.

Ini adalah fenomena “culture shock”, gegar budaya yang menjangkiti umat “Bumi Indonesia” karena tiba-tiba Anda yang tidak siapa-siapa bisa menyampaikan pikiran dan berbagi apapun melalui sebuah media. Sebelumnya hanya orang-orang terpilih yang bisa menulis di koran, orang-orang memiliki minat dan kecukupan bisa memotret, apalagi mengambil video untuk disiarkan di televisi.

Lalu semua orang bisa menulis, memotret, membuat video, juga tentang dirinya, dan dibaca siapa saja lewat media massa. Tidak ada orang lain yang “membimbing” Anda, seperti dulu jika ingin naskah kita diterbitkan mesti melewati redaksi. Ada suatu standar yang harus dilewati.

Inilah Abad ke-21 yang ditandai dengan “sirine” datangnya era Teknologi Informasi. Dunia maya menjadi dunia nyata. Penyebaran informasi yang sebelumnya dilakukan melalui “gatekeeper” atau penyeleksi informasi (redaksi), akhirnya tidak diperlukan lagi.

Siapa saja bisa memiliki media sendiri dan memproduksi informasi sendiri. Terserah apakah ia memiliki informasi yang dipercaya dan layak dikonsumsi atau sama sekali tidak. Layak dipercaya dan layak dikonsumsi adalah dua hal yang berbeda, yang satu adalah fakta, satu lagi adalah pantas.

Juga terserah apakah pendapatnya masuk akal dan berdasarkan pengetahuan yang memadai atau asal-asalan. Gaya lama telah bubar, yaitu seseorang yang menganggap dirinya tidak patut berbicara dengan orang yang level pengetahuannya lebih tinggi dan orang yang lebih tinggi tidak pantas berbicara dengan orang yang level pengetahuannya di bawah, apalagi jauh di bawah.

Gatekeeper telah beralih ke setiap indidvidu, ke konsumen itu sendiri. Andalah editor terhadap semua pesan yang masuk, Andalah yang menentukan apakah itu harus dijadikan pegangan, sebarkan, atau hanya dijadikan sampah.

Akibatnya, informasi palsu atau “hoax” menyebar secepat penyebaran berita dari jurnalis profesional, hasil penelitian ilmuwan terkemuka, atau pendapat pakar. Hoax, tentu saja adalah satu bentuk kemasan untuk sensasi. Informasi sensasi, bagaimanapun pasti menarik minat banyak orang.

Informasi palsu pasti sama usianya dengan peradaban manusia. Itu dilakukan untuk banyak tujuan untuk kepentingan sendiri, seperti kekuasaan, kekayaan, agama, dan kemegahan. Di Indonesia informasi palsu pada masa lampau pernah diceritakan Marco Polo, seorang pengelana dari Venesia pada abad ke-13 atau awal tahun 1290-an. Polo mengisahkan tentang penemuan yang menghebohkan Eropa, yaitu bukti adanya manusia mini yang disebut Pigmi yang telah diawetkan dari Hindia (Nusantara).

“Saya beritahu Anda bahwa mereka yang mengaku telah membawa orang-orang pigmi dari Hindia terlibat dalam penipuan dan kebohongan besar. Saya yakinkan Anda bahwa yang disebut manusia pigmi diciptakan di pulau ini (Sumatra) dan akan saya beritahu caranya.”

Sesungguhnya, tulis Polo, ada semacam monyet di sini (Sumatra) yang ukurannya sangat kecil dan berwajah seperti manusia. Jadi manusia mengambil beberapa ekor monyet ini dan menggunduli seluruh bulu mereka dengan sejenis salep.

Hoax ada sejak manusia pandai berkomunikasi dan membutuhkan penipuan untuk kepentingannya. Media tanpa “gatekeeper” membantu penyebarannya. Itu bukan berarti media yang memiliki “gatekeeper” juga terbebas dari informasi palsu.

Terkait dengan kemudahan akses informasi ini atau informasi setara untuk semua, juga muncul problem. Manusia adalah makluk yang suka informasi “bizzar” atau “bizarre”(aneh), syahwat (putri yang cantik, bidadari, dan seksualitas), serta humor. Ketiganya bila disatukan akan menjadi pembahasan jutaan orang di abad ini.

Tapi, ketiganya adalah informasi orang kebanyakan. Bukan konsumsi kaum intelektual. Butuh humor tingkat tinggi untuk membuat seorang intelektual tersenyum.

POTRET PERS HARI INI
“Koran tiba suatu pagi, tapi ada yang kurang. Tidak ada tukang koran yang melemparkan koran ke halaman rumah yang temaram, tak terdengar bunyi berisik jatuhnya koran. Malah korannya pun tak ada,” tulis Vic Sussman dalam buku “Pers Tak Terbelenggu”, suatu terbitan untuk memperkenalkan pers di Amerika Serikat oleh Dinas Penerangan Amerika Serikat (USIS).

Yang menarik adalah tulisan ini diterbitkan pada 1997, 21 tahun silam. Ini adalah periode awal gelombang media siber menghantam bisnis pers di dunia, terutama Amerika Serikat. Tahun demi tahun, teknologi informasi semakin maju yang mempermudah semua orang mengakses informasi.

Semua orang kini bisa menjadi produser dan konsumen berita. Dunia jurnalisme mendapat tantangan baru. Iklan sebagai penopang bisnis media konvensional, cetak, radio, dan televisi, tergerus sedemikian rupa. Iklan mulai melirik ‘penyedia jasa’ media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube. Iklan selalu mengejar tempat di mana banyak pembaca atau konsumen yang dalam bahasa koran ditentukan oleh oplah.
Media siber sebagai “kupu-kupu” yang umumnya lahir dari kepompong media cetak, mencari bentuk baru pelayanan informasi kepada publik: ia dipengaruhi kecepatan penyajian, banyaknya klik, dan komentar di bawah berita.

Sementara media sosial menjadi keasyikan bagi siapa saja, termasuk para jurnalis sendiri. Persoalan baru pun muncul karena konflik ini, jurnalis digugat karena postingannya di media sosial. Apa yang terjadi hari ini? Berikut adalah beberapa gambaran:

• Media cetak hidup dalam kegamangan “senjakala media”, gamang karena ditinggalkan pembaca dan tentu saja yang paling penting adalah ditinggalkan pemasang iklan. Halaman berlangganan dengan pemerintah adalah tren untuk bahan bakar terakhir pada banyak media cetak. Pada saat pilkada berlangsung, juga ada media cetak yang teken kontrak berita dengan kontestan pemilu.

• Berita media cetak mulai dipengaruhi isu-isu di media sosial.

• Jurnalis malas melakukan verifikasi, mengutip sumber-sumber yang tidak relevan, dan menjadi corong tokoh-tokoh kontroversial tanpa isi.

• Media siber berlomba memburu klik dan rating, ini adalah modal bagi mereka untuk meyakinkan pemasang iklan (dulu di koran adalah oplah, kemudian rating di dunia televisi).

• Jurnalis dibayar berdasarkan klik: jurnalis memburu klik, apa yang akan diklik pembaca lebih banyak itulah akhirnya yang dipikirkan ketika mencari angle.

• Yang menarik semakin jauh dari yang penting. Penting adalah tujuan utama jurnalisme, penting bagi publik.

• Mengutip media sosial sebagai sumber berita, tanpa konfirmasi atau yang lebih parah menjadikan tanggapan orang di media sosial sebagai bahan berita dengan label “reaksi netizen”.

• Yang BIZZAR (aneh) semakin dikejar meski terkadang jauh dari akal sehat.

• Eksploitasi kasus seksual dijadikan ladang klik.

• Redaksi menerima siaran pers (press release) sama dengan publik di media sosial.

• Siapa saja menginformasi (memberitakan) suatu peristiwa, termasuk berita tentang dirinya sendiri. Pejabat memposting ia dilantik. Berita seperti itu diproduksi setiap hari meski banyak yang sepotong (kurang unsur berita).

• Lembaga dan pejabat atau humas langsung menerbitkan informasi tentang mereka.

• Media asing semakin menjajah: Facebook, Youtube, Instagram, UCNews, dll mencuri iklan lokal.

Informasi seakan-akan itu produk jurnalisme berhamburan ke hadapan publik. Produk ini tidak hanya diproduksi oleh warga biasa, warga yang sudah mendapatkan pelatihan jurnalistik (jurnalis warga), tetapi juga tak kalah banyak oleh jurnalis sendiri.

Dalam kondisi seperti ini muncul pertanyaan: bagaimana masa depan pers atau jurnalisme? Apakah orang masih menunggu diliput oleh media? Apakah orang menunggu informasi dari jurnalis? Kenapa?

JURNALIS ADALAH INTELEKTUAL

Dalam kondisi seperti inilah justru seharusnya jurnalis hadir sebagai sosok intelektual. Sebagai “sang pencerah” yang menunjukkan jalan terang di tengah kegelapan di “Bumi Indonesia”, sehingga bisa tercipta menjadi “Bumi Manusia”.

Intelektual, seperti dikutip dari buku Edward W. Said, “Peran Intelektual” (YOI: 1998) adalah “pencipta sebuah bahasa yang mengatakan yang benar kepada yang berkuasa”. Ia semacam orang yang berpikir, filsuf, dan menyampaikan kebenaran meskipun pahit. Ia orang independen dalam berpikir terkait dengan keilmuannya.

Pada 1968 segerombolan intelektual, terutama dari kampus, masuk ke media massa menjadi jurnalis, pembawa acara dan tamu talkshow, penasihat, manajer, dan sebagainya.

Meski ia dituduh “terdomistikasi” atau terkekang oleh kepentingan yang bersifat praktis dan menyesuaikan diri dengan keinginan khalayak, namun ini peran sadar untuk memanfaatkan media massa untuk perubahan menjadi masyarakat yang berpikir, yang kritis.

Orang-orang yang independen, kritis, dan berakal sehat perlu menjalankan media agar fungsi pers sebagai gerbong menuju kehidupan manusia yang lebih baik bisa berjalan dan kehidupan demokrasi tetap terpelihara. Apalah artinya pers tanpa orang-orang semacam ini.

“Tanggung jawab sosial para jurnalis, paling tidak dalam demokrasi, adalah untuk memperhatikan dan melaporkan peristiwa-peristiwa dan isu-isu penting yang perlu diketahui warga agar mereka dapat secara efektif mengatur diri mereka sendiri,” kata Kovach dan Rosenstiel (2001).

Lalu apakah kaum intelektual ini bisa menjadi jawaban terhadap kondisi pers atau jurnalisme di tengah gempuran “peradaban baru” Teknologi Informasi? Di tengah gempuran siapa saja bisa melaporkan dan memproduksi informasinya sendiri? “Teknologi baru bukan pengganti keterampilan dan nilai jurnalistik,” kata editor lama, Robert Giles. “Kemampuan untuk menyaksikan dan mengumpulkan data tidak membuat seseorang menjadi jurnalis”.

“Yang membedakan ‘semua orang’ dengan jurnalis ialah pemahaman etika. Tugas media bukan menjaga ‘teritorinya’ dengan mengatakan saya jurnalis, dan Anda bukan,” kata Ati Nurbaiti.

Jadi, mari kita singkirkan kekhawatiran bahwa “siapa saja” bisa menggantikan peran seorang jurnalis profesional dan media sosial bisa menggantikan media pers, sejauh yang dipraktikkan adalah jurnalisme yang sebenarnya. Bukan sekadar legalitas formal bahwa media itu terdaftar sebagai perusahaan pers di Dewan Pers dan jurnalisnya memiliki sertifikat kompeten.

Dus, terlebih para “penggerak” jurnalisme tersebut menjadikan dirinya intelektual, sang pencerah. Seorang intelektual tidak akan menghambakan dirinya menjadi corong seorang tokoh yang “asbun” (asal bunyi), hadir sebagai perekam yang pasif, mengejar keanehan, dan berlebihan melakukan komersialisasi jurnalisme.
Semoga kita terus bersemangat menciptakan “Bumi Manusia”.

* Syofiardi Bachyul Jb, anggota AJI Padang dan Ketua Majelis Etik Nasional AJI.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here