Jumat, 4 Mei 2018

Jumat pertama dalam bulan. Jumat keramat. Jumat yang sakral. Para biarawan bertekuk di depan Kotak Kudus, Tabernakel. Tempat mereka bersua dengan Yesus, yang diimani hadir dalam rupa Sakramen Mahakudus. Ia diimani sebagai yang bertahta dalam bejana emas Sibori atau diunjuk dengan Monstrans. Madah Tantum Ergo nyaring terdengar hingga celah-celah lubang tikus di antara bata-bata dinding biara bergaya gotik. Ya… Aku sadar! Aku sungguh-sungguh menyadari! hari ini, 4 Mei 2018, adalah Jumat pertama dalam bulan.

Jumat, 4 Mei 2018

Jumat pertama dalam bulan. Jumat keramat. Jumat yang sakral. Aku biarawan. Dan aku tidak bertekuk di depan Kotak Kudus, Tabernakel, malam ini. Madah Tantum Ergo tidak kulantunkan. Aku tidak melihat bejana emas! Aku tidak melihat Monstrans! Aku biarawan dan aku tidak beradorasi malam ini! Berdosakah aku? Bencikah Yesus padaku karena tidak bersua denganNya atau melantunkan bagiNya madah Tantum Ergo malam ini? Aku Biarawan bodoh. Biarawan dungu yang bersembunyi dibalik kepicikan rohani.

Jumat, 4 Mei 2018

Jumat pertama dalam bulan. Jumat keramat. Jumat yang sakral. Di sini aku sadar! Aku melihat Yesus. Aku bersua dengan Dia. Ia ada dalam enam pemuda berpeci yang berbagi kopi dan batang rokok denganku. Ia tersamar dalam dua gadis berhijab yang menampakkan senyum kedamaian dan kehangatan persaudaraan. Siapakah aku sehingga mengurung Yesus dalam Kotak Kecil, Tabernakel? Siapakah aku sehingga memenjarakan Yesus dalam tembok-tembok bata dengan dua ventilasi udara? Ini Jumat Pertama dan Aku biarawan yang bodoh!

Gubuk Tulis mengajak aku untuk melongok keluar jendela biara.

Jika ingin bertemu Tuhan Yesus! Gubuk Tulis mengajariku melantunkan kata demi kata, bait demi bait Madah Tantum Ergo dengan cara yang baru dan berbeda! Gubuk Tulis bagiku adalah “Gereja” dengan wajah yang lain!

Batu, Jumat, 4 Mei 2018

Raymond, Si Biarawan Bodoh

 

(Puisi 2)

AKU MELIHAT SURGA

 

Aku melihat Surga!

Ketika Vesper dan Adzan sahut-menyahut di celah-celah langit-langit kota

Perpaduannya nyaring…

memecahkan kotak-kotak kaca ke-Aku-an

Pekak suluh-suluh kebencian

Satu nada berirama…

untuk Dia Sang Musisi Abadi

 

“Laudate Dominum omnes gentes…..”

“Lafadz Bismillahirahmanirrahim….”

 

harmoninya baka….

lalu, apa beda???

 

Aku Melihat Surga

Sungguh…

Bak Musafir Timur Tengah suapkan kurma ke mulut Rahib

Bak anggur Abas puaskan dahaga Habib

silentium-magnum”kan kata pecah

Lalu, apa beda???

 

Aku melihat Surga!

Surgamu? Surgaku?

Tak peduli apa yang kau daras…

Mazmur Daud atau Surah Al-Kautsar

Itu Surga Kita…!!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here