Mari ngaji tentang jembatan Shirathal Mustaqim ditinjau dari perspektif nanosains. Selain agar kita ingat mati, semoga juga dapat lebih tercerahkan melalui tulisan ini.

“Permen Nano Nano, manis-asam-asin rame rasanya!”

Pasti ada yang masih inget dengan iklan hits permen ini. Buat generasi 90-an, permen nano-nano kayaknya termasuk permen favorit jajanan anak sekolahan, bareng sama permen Pagoda, Sugus, Hot Hot Pop, Yosan, Bendekar Biru, dan Jagoan Neon.

Sekarang sih sudah banyak banget permen saingan mereka. Sehingga ada yang masih berjaya da nada yang sudah tertelan zaman.  Tapi untuk si nano-nano ini sepertinya belum ada deh saingannya. Karena permen ini diklaim punya banyak cita rasa, mulai dari manis, asem dan asin.

Emang sih kalo dicoba, rasa permennya lumayan menggelitik lidah. Emang ada manis yang kadang di selingi rasa asem terus diikutin saama rasa asin. Beneran gak bohong, memang RAME RASANYA. Mungkin karena rame rasanya ini makanya permen ini jadi unik dan orang banyak yang suka. Sampai-sampai ada ungkapan “hidupku seperti permen nano-nano, rame rasanya”.

Sudah cukup di sini ngomongin permennya, nanti puasa-puasa gini kamu malah jadi pengen ngemut aja. Hehe

Saya cuma ingin membahas teori yang juga masih berhubungan dengan istilah nano-nano ini. Ya benar, tentang nanosains! Barangakali tidak banyak orang yang tahu bahkan mendengar istilah nanosains sebelumnya. Di Indonesia sendiri, nanosains belum sebegitu booming mengalahkan bom-bom teroris.

Hal itu juga sama dengan apa yang saya rasakan sebelum memutuskan mengambil master di bidang nanosains. Akhirnya saya membaca teori-teori dasar tentang nanosains, yang dulu mungkin saya cuma sekedar tahu kalau nano itu ukuran kecil di bawah meter dan mikro. Itu saja. Namun, setelah ambil jurusan ini saya pun masih amat kesulitan jika ditanya oleh orang tua, pak dhe, bahkan mbah saya soal jurusan yang sedang saya ambil. Saya sering menjawabnya dengan nada bercanda kalau saya sekarang ini sedang kuliah mengambil “ilmu ghaib”. Mempelajari material yang sama sekali tidak bisa kita lihat dengan mata dan mikroskop optik sekali pun.

OK, biar semuanya tahu saya akan mengulas sedikit apa itu yang dimaksud dengan Nanosains?

Mengutip dari bukunya DR. Mikrajuddin (2008) tentang Pengantar Nanosains, menyatakan bahwa nanosains (nanoscience) adalah ilmu yang mempelajari rekayasa dalam penciptaan material, struktur fungsional, maupun piranti dalam skala nanometer. Dalam terminologi ilmiah, nano berarti 10-9 (0,000000001). Satu nanometer adalah seper seribu mikrometer, atau seper satu juta millimeter, atau seper satu miliar meter.

Gimana, sudah paham atau malah tambah bingung? Hehe

Saya akan mencoba menyederhanakan pemahaman lewat contoh benda-benda yang sangat dekat dengan kita. Di alam sebenarnya sudah ada sejumlah entitas yang berdimensi nanometer. Saat belajar Biologi, kita mengenal double helix DNA yang memiliki diameter sekitar 2 nm dan ribosom yang memiliki diameter sekitar 25 nm. Atau di bidang Kimia, kita pernah belajar bahwa atom-atom memiliki diameter sekitar 0,1 sampai 0,4 nm sehingga material yang berukuran nanometer hanya mengandung puluhan hingga ribuan atom. Sebagai perbandingan, rambut manusia 3 memiliki diameter 50.000 hingga 100.000 nm sehingga satu nanometer kira-kira sama dengan sehelai rambut yang dibelah seratus ribu

Di dunia ini banyak hal yang tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang (naked eyes). Namun kalau ditinjau dalam paradigma ilmu sains pasti berbeda lagi. Karena benda yang eksistensinya tidak dapat dijangkau oleh panca indera manusia bisa di dengan bantuan mikroskop elektron yakni sebuah mikroskop yang mampu untuk melakukan pembesaran objek sampai 2 juta kali ini mampu mendeteksi dan mengamati benda tersebut. Sebagai contoh, SEM (Scanning Electron Microscope) modern sekarang ini mempunyai resolusi hingga 1 nanometer (nm) atau pembesaran 400.000 kali. Akan tetapi jangan berpikir bahwa teknologi ini juga bisa untuk melihat arwah maupun jin yang memang juga tidaklah tampak.

Hemat saya, dari ulasan di atas menimbulkan pertanyaan lain di benak dan pikiran saya pada benda lain. Yaitu, benarkah jembatan Shirathal Mustaqim ibarat rambut dibelah tujuh? Mari kita mencoba menafsirkannya dengan sedikit ngawur tapi teoritis. Menurut cerita yang beredar, jembatan ini seperti rambut yang dibelah tujuh (termasuk kata guru agama Islam saya sewaktu sekolah dasar dan mengaji di madrasah). Jembatan ini dikenal juga oleh khalayak muslim merupakan jembatan yang harus dilalui siapa pun tanpa terkecuali pada waktu hari kiamat tiba. Jembatan ini disebut-sebut sebagai penghubung antara neraka dan surga.

Setelah saya telaah dan diskusi, ternyata adapun cerita ini berkembang karena penafsiran dari Surah Al Fatihah yang di dalamnya disebut kata “Shirathal Mustaqim”. Beberapa ulama meyakini, arti “jalan yang lurus” adalah jembatan yang lurus dan panjang. Dan tidak ada dalil yang shahih yang menyatakan bahwa Shirath seperti rambut yang dibelah tujuh.

Dalam riwayat ditemukan bahwa nama jembatan ini adalah jembatan Shirath yang terbentang di atas neraka menuju ke surga. Semua manusia akan melewatinya sesuai dengan amalan mereka. Ada yang jatuh ke neraka, ada yang melewatinya dengan cepat dan ada yang melewatinya dengan lambat. Dalam suatu riwayat mengatakan, bahwa adanya suatu jembatan diatas neraka Jahanam adalah hadits yang artinya berbunyi:

“Maka dibuatlah As Shirath diatas Jahanam, ” hadits riwayat Bukhori dan Muslim.

Diriwayatkan pula bahwa jembatan ini lebih lembut dari rambut dan lebih tajam dari pedang. Seperti ucapan Abu Sa’id Al Hudri:

“Sampai kepadaku bahwa jembatan ini (As Shirath) lebih lembut dari rambut dan lebih tajam dari pedang,” hadits riwayat Imam Muslim.

Melewati jembatan As Shirath merupakan salah satu peristiwa dasyat yang akan dialami oleh manusia yang telah mengucapkan ikrar syahadat tauhid. Menyebrangi jembatan yang terbentang di dua punggung neraka Jahanam ini tidak hanya dialami oleh umat Islam dari kalangan Nabi Muhammad SAW. Melainkan juga oleh umat beriman dari para Nabi sebelumnya, baik mereka yang imannya sejati, maupun mereka yang suka berbuat maksiat dan kaum munafik.

Jadi jika memang benar jembatan Shirathal Mustaqim ini lebih lembut dari rambut, maka logika matematisnya sangatlah kecil ukurannya. Seperti halnya hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata ukuran rambut manusia adalah 17-181 mikrometer (µm) atau sekitar 80.000- 100.000 nanometer. Sedangkan di bidang nanosains, hal ini sangat mungkin dilihat walaupun penampangnya masih dibelah lagi sampai tujuh kali atau bahkan lebih. Lalu bagaimana jika itu diterapkan kepada ukuran jembatan Shirathal Mustaqim yang katanya diumpamakan seukuran rambut dibelah sampai tujuh bagian. Kira-kira ada yang bisa menghitung? Silahkan hitung saja sambil menunggu berbuka puasa!

 

SHARE
Previous articleJurnalisme di Bumi Manusia
Next articleMenghidupkan Kembali Pandangan Tan Malaka
Pegiat literasi berasal dari Lamongan yang sekarang tinggal di Bangkok Thailand. Salah satu penulis Buku “Jalan Damai Kita” Gusdurian Malang (2016). Biology, Faculty of Science, Islamic State University of Maulana Malik Ibrahim, Malang, Indonesia. ---- Master's Degree Research Programs, Nanoscience and Nanotechnology, King Mongkut’s University of Technology Thonburi, Bangkok, Thailand.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here