Oleh: Joko Priyono*

Salah satu buku sains populer berjudul The Grand Design yang terjemahan dalam bahasa Indonesianya adalah Rancang Agung merupakan karya dua ahli fisika terkemuka di dunia, masing-masing adalah Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow. Stephen Hawking adalah ilmuwan yang telah meninggal dunia pada tanggal 14 Maret 2018 lalu, terkenal dengan beberapa karyanya yang telah diterjemahkan pula dalam beberapa bahasa. Di antaranya; A Brief History of Time, Black Holes and Baby Universes, The Universes in a Nutshell, A Briefer History of Time hingga My Brief History.

Sementara itu, Leonard Mlodinow merupakan ahli fisika di Caltech dan tinggal di South Pasadena, California. Penulis buku laris, seperti diantaranya; The Drunkard’s Walk: How Randomness Rules Our Lives, Euclid’s Window: The Story of Geometry from Parallel Lines to Hyperspace, Feynman’s Rainbow: A Search for Beauty in Physics and in Life dan A Briefer History of Time. Selain itu, ia juga menulis untuk Star Trek: The Next Generation.

Buku yang juga di salah satu bagiannya meninggalkan satu hal penting yang beberapa kali menimbulkan sebuah kontradiksi dari banyak kalangan pembaca. Bagian tersebut adalah pernyataan kaitannya mengenai teori-M. Pernyataan tersebut berbunyi, “Menurut teori-M, alam semesta kita bukan satu-satunya alam semesta. Teori-M justru memprediksi bahwa ada banyak sekali alam semesta tercipta dari ketiadaan. Penciptaan alam-alam semesta itu tak memerlukan campur tangan sosok adi-alami alam atau tuhan. Sebaliknya, banyak alam semesta muncul secara alami akibat hukum-hukum fisika.”

Namun, bukan pernyataan tersebut yang menjadi fokus bahasan pada tulisan kali ini. Bukan pula melakukan pembahasan atas apa yang melandasi maupun melatarbelakangi tentang istilah “tuhan” yang tidak ikut campur tangan dalam penciptaan alam-alam semesta dalam perspektif teori-M. Melainkan dari itu, ada hal lain yang menarik dalam buku yang memaktub delapan bahasan maupun tema tersebut. Hal tersebut adalah berupa ditemukannya istilah maupun frasa “sepakbola”. Tentu saja hal tersebut memancing keingintahuan kita, ketika notabenenya, buku tersebut secara keseluruhan banyak membahas mengenai teori kuantum hingga kosmologi.

Sebagai dua ahli fisika ternama, tidak heran, ketika dalam penyusunan teori maupun gagasan yang ada juga melibatkan frasa “sepakbola” di dalamnya. Terlebih kalau kita mengulik dengan lebih mendalam, keilmuan fisika mafhum menggunakan istilah “sepakbola”, “bola” ataupun sejenisnya dalam pembuatan analogi-analogi, tentunya dengan memiliki tujuan agar pembaca mudah memahami apa maksud gagasan yang ingin disampaikan oleh penulis. Dan frasa “sepakbola” dalam kenyataan, tidak akan terlepas dari banyak teori-teori yang ada di fisika. Diantaranya: energi, gerak parabola, gerak rotasi, gaya gravitasi maupun gaya seretan.

Dalam bagian BAB yang berjudul “Sejarah Alternatif” tersebut, Hawking dan Mlodinow memperkenalkan dua jenis istilah yang menggunakan frasa “sepakbola”. Masing-masing adalah “Sepakbola Dua Celah” dan “Sepakbola Buckyball”. Tidak lain dan tidak bukan, dua istilah tersebut merupakan penjelasan dari serangkaian penelitian yang pernah dilakukan oleh satu tim ahli fisika di Austria pada tahun 1999. Penelitian yang dilakukan tersebut merupakan penembakkan serangkaian molekul berbentuk bola sepak ke suatu penghalang. Dimana, molekul-molekul tersebut masing-masing terbuat dari enam puluh atom, yang terkadang disebut dengan istilah buckyball. Penyematan istilah tersebut, mengikuti nama arsitek Buckminster Fuller yang membangun bangunan itu.

Hawking dan Mlodinow menyatakan, kubah geodesik yang dibuat Buckminster Fuller mungkin merupakan benda berbentuk bola sepak terbesar yang ada. Sementara buckyball adalah benda berbentuk bola sepak terkecil. Kemudian, dalam penelitian tersebut juga dijelaskan bahwasannya penghalang yang menjadi sasaran tembak para ilmuwan punya dua celah yang bisa dilalui buckyball. Di belakang penghalang, para ahli fisika menempatkan semacam layar untuk mencatat dan menghitung jumlah molekul yang melalui penghalang.

Gagasan
Pemaknaan dari Sepakbola Dua Celah itu sendiri merupakan kondisi saat seorang pemain sepakbola yang menendang ke arah dua celah di dinding bakal menghasilkan pola tertentu. Sementara itu, Sepakbola Buckyball ketika bola sepak molekuler ditembakkan ke celah-celah layar. Pola yang dihasilkan dari penembakan tersebut mencerminkan hukum kuantum yang tak lumrah. Dan mulai dari sanalah maksud dan penjelasan apa yang sebenarnya menjadi gagasan utama dari Hawking dan Mlodinow.

Pada percobaan yang dilakukan oleh tim ahli fisika Austria tersebut, yang diamati ketika kedua celah terbuka adalah gabungan pengamatan apabila tiap celah dibuka sendiri-sendiri. Pembukaan celah kedua memang meningkatkan jumlah molekul yang tiba di beberapa titik layar, tetapi juga mengurangi jumlah yang tiba di titik lain. Malah ada titik yang tak kena buckyball ketika dua celah terbuka, tapi kalau hanya satu celah terbuka, ada buckyball yang mendarat di sana. Aneh, memang, sebagaimana juga diungkapkan dua penulis tersebut.

“Yang dituntut sains dari suatu teori adalah bahwa teori itu harus bisa diuji.” Begitulah frasa yang juga diungkapkan dalam bagian BAB “Sejarah Alternatif”. Senada dengan apa yang pernah digagas oleh Karl Raimund Popper mungkin berkaitan mengenai prinsip falsifiabilitas pengetahuan. Kurang lebihnya, bahwasannya segala ungkapan atau pernyataan pada dasarnya dapat dibuktikan salah. Dengan arti lain, suatu teori mengharuskan pengujian ulang ketika ada satu bentuk eksperimen yang bisa membuktikan teori tersebut salah.

Percobaan buckyball setidaknya membuktikan pada peristiwa maupun fenomena yang tidak terjangkau oleh sains klasik. Penjabaran tersebut dikenal dengan istilah fisika kuantum, sebagaimana pernah diungkapkan oleh Richard Feynman, “berisi segala misteri mekanika kuantum.” Dan dalam keberjalanannya, kemudian fisika kuantum yang nantinya akan memberikan andil dalam perkembangan sains dan teknologi semakin canggih. Berdasarkan agihan sejarah tidak akan terlepas dari gagasan dari banyak tokoh, seperti diantaranya: Max Planck, Thomas Young, Davisson-Gerner, Albert Einstein, Werner Heisenberg bahkan Richard Feynman. Dan masih banyak lagi.

Satu hal yang perlu diketahui, bahwasannya jikalau konsep buckyball dilakukan dengan bola sepak betulan, maka memerlukan sebuah prasyarat, yaitu berupa adanya pemain sepakbola dengan bidikan tendangan yang goyah tapi tendangannya selalu bisa meluncurkan bola dengan kecepatan yang dapat ditentukan. Maka jikalau boleh mencandakan konsep Werner Heisenberg akan kaidah ketidakpastiannya, yang pengertiannya bahwa ada batas pada kemampuan kita mengukur data tertentu secara bersamaan, seperti posisi dan kecepatan zarah. Di dunia sepakbola nyata pun berlaku, sebut saja kemenangan dari sebuah tim dalam sebuah pertandingan itu juga tidak pasti. Bisa jadi ia akan menderita kekalahan. Ataupun kemungkinan-kemungkinan lain yang tidak bisa dipastikan sebelumnya.[]

* Ketua PMII Komisariat Kentingan UNS 2018-2019. Menempuh Studi di Jurusan Fisika Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta sejak tahun 2014. Menulis Buku Manifesto Cinta (2017) dan Bola Fisika (2018).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here