Kembali fitrah, sebagaimana seharusnya manusia kembali seperti bayi. Namun, hal tersebut menjadi kenyataan yang tak pernah terjadi, padahal kenyataan demikian merupakan esensi dari Id’l-fitr. Mungkin seperti itu harapan kita setelah melalui indahnya bulan ramadhan.

Berpuasa selama satu bulan menahan lapar, dahaga dan nafsu. Menjemput berkah di malam Nuzulul Qur’an, dan dilanjutkan dengan merefleksikan diri di malam Lailatul qadr. Kemudian puncaknya adalah meraih hari kemenangan di Id’l-fitr. Namun yang menjadi pertanyaan yaitu apakah kita akan selesai di bulan ramadhan saja? Lantas apa yang akan kita lakukan di hari kemenangan? apakah kita sebagai manusia akan mengulang dosa yang sama setelah meraih hari kemenangan?

Ramadhan adalah bulan pensucian dosa bagi manusia. Dosa yang berlalu diganti dengan pahala yang dilipat gandakan, bahkan tidurnya orang berpuasa dinilai sebagai ibadah. Jangan sampai kita melakukan dosa yang sama setelah Id’ I-fitr, karena itu sangat merugikan bagi kita. Semua yang kita peroleh di bulan ramadhan akan menjadi sia-sia.

Sebagai manusia hendaknya kita selalu mawas diri. ‘’Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu’’ siapa yang mengenal dirinya sendiri maka ia mengenal Tuhannya, adalah kunci untuk membuka pintu ‘’ awwalu ‘d-diin ma’rifatullah, awal beragama adalah mengenal Allah. Untuk mendapatkan kunci tersebut kita perlu bertafakur. Tafakur bukanlah kegiatan berfikir semata. Tafakur justru adalah kegiatan menyingkirkan ide-ide, gagasan-gagasan, pikiran-pikiran dan konsep-konsep, termasuk di dalamnya adalah kehendak, hasrat, rencana, dan target, sehingga yang tampak hanyalah kemurnian hati-nurani dan kejernihan akal-budi. Dari tafakur itulah, manusia dapat meluruskan niat menjernihkan pikiran, membeningkan sanubari, dan mendengarkan kata hati.

Melalui pengenalan terhadap diri sendiri itulah, manusia akan bertemu dengan Diri Sejati dan mendapatkan jalan kembali kepada Tuhannya. Langkah menuju ke sana dimulai dari menyapa empat saudara (nafsu muthmainnah, nafsu supiah, nafsu amarah, nafsu lawwamah) manusia itu dalam keseharian, dan sedikit demi sedikit mulai mengambil kendali atas mereka, dan pada akhirnya melakukan pengrucutan (pelepasan) selubung nafsu terhadap roh dan jasad ‘’Sedulur kiblat papat kalima pancer, ibu bumi, bapa angkasa, nini among, kaki among, sing momong jiwa ragaku’’. Artinya, ‘’Wahai saudaraku dari keempat penjuru, yang kelima adalah aku sendiri sebagai pusatnya, bumi sebagai ibu, langit sebagai ayah, leluhur dari ibu, leluhur dari ayah, yang mengasuh jiwa ragaku’’.

Ikhlas adalah kesadaran untuk melepas segala sesuatu selain Allah. Ridha adalah kesadaran untuk berpegang hanya kepada Allah. Sementara untuk menempuh perjalanan pulang kembali ke dalam diri dari titik berangkat insan kamil (manusia sempurna) menuju alam insan, ke alam ajsam, ke alam mitsal, ke alam arwah, memasuki keadaan martabat wahidiyah, dan mengalami kesadaran martabat ahadiyyah, yang delapan itu, maka delapan penjuru kannah, zuhud, tawadhu, wara’, rida, ikhlas, ihsan, iman, dan Islam, harus berputar melawan arah jarum jam kehidupan untuk kembali ke fitrah (Id’l-fitr).

Sesungguhnya, perjalanan terjauh adalah menuju ke dalam diri sendiri. Ujung dari perjalanan ke dalam diri sendiri yang berhilir pada mawas diri dan berhulu pada kenal diri, adalah samudra Makrifatullah berupa pengalaman syahadat. Setelah Id’l-fitr, apakah kita mampu untuk mengenal diri dan membuka kunci untuk mengenal Allah SWT? Wallohu a’lam

*Penulis Adalah Mahasiswa Universitas Islam Malang yang aktif di Himpunan Mahasiswa Progam Studi Ahwal Assyakhisiyyah sebagai ketua umum pada periode 2018/2019. Tergabung dalam Media Santri N.U dan Komunitas GUSDURian Malang.

Kepustakaan
Malik, Chandra, Makrifat Cinta, 2017, Jakarta: Kompas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here