Memaknai Hijrah kali ini tidak ada salahnya kalau kita baca kembali–tentu dengan perspektif baru–perihal nasionalisme kita. Adalah Benedict Anderson dan Musthafa el-Ghalayaini yang saya kira mewakili topik ini. Ben Anderson dalam bukunya Imagined Communities memaknai nasionalisme dengan rasa dan budaya malu (shame culture), sementara el-Ghalayaini melalui ‘Idhotun Nasyi-in memaknainya sebagai keberanian (syaja’ah). Bagaimana tali-temali dan penjengkaran nilai keduanya?

Bilamana kita telisik lagi peristiwa (lebih tepatnya tragedi) kemanusian yang berujung pada air mata sosial, seperti: DOM Aceh, Trisakti, Malari, Kudatuli, Tanjung Priok. tragedi Santa Cruz di Dili, pembantaian Udin, Theys Eluay, Kasus Marsinah dan pembunuhan Munir, belum tuntasnya penanganan RMS, RPM, perusakan dan pembakaran tempat ibadah, dll dalam pandangan pak Ben disebut ‘Malpraktik Nasionalisme’. Apa sebab? Nasionalisme semacam ini cenderung oppresive dan selalu menagih tumbal sebanyak mungkin dan tidak menutup kemungkinan justru akan meruntuhkan Indonesia sebagai nation-state.

Sementara itu el-Ghalayaini (1951) mengkhawatirkan perilaku terlampau berani orang-orang primitif dan berpandangan jumud dalam memperjuangkan nasionalismenya yang seakan mengarah pada pembenaran “lebih baik dijajah bangsa sendiri dari pada dijajah asing” serta kanalisasi-kanalisasi ruang gerak nasionalisme pada agama anu, golongan itu dan mazhab tertentu. Lalu yang muncul ke permukaan adalah fanatisme, barbarisme dan gigantisme bertopeng nasionalisme.

Pak Ben telah meramalkan keruntuhan Soviet dan Ceko Slovakia pada 1982 sampai satu dekade sebelum kedua negara Eropa timur itu runtuh. Lagi-lagi kerana nasionalisme disalahmengerti dan disikapi secara gegabah oleh ambisi-ambisi segelintir oknum. Bukankah cara pandang semacam inilah yang terjadi di Timor Timur sampai berujung pada Referendum 17 tahun silam? Dan kita harus belajar dari peristiwa itu agar tidak terulang di Aceh dan Papua!

Perlu digarisbawahi bahwa nasionalisme dan bahkan negara-bangsa kita ini masih rapuh dan keropos dalam banyak aspek dan aksentuasi. Setiap etnik tentu memiliki penghayatan yang berbeda- beda tentang nasionalisme dan aksentuasinya, sebab itu pula rasa hayat dan sikap kebangsaan sesama kita juga menjadi rentan. Bahkan, pada tataran imajinasi tentang nasionalisme saja kita masih ringkih dan kerap “ejakulasi dini”. Nasionalisme teramat universal untuk kita alirkan pada selokan-selokan sempit bernama conflict of interest; ia terlalu agung untuk kita kotori dengan syahwat-syahwat futuristik nan oportunis. Pendek kata, nasionalisme kita tidak seperti sinetron yang harus genit dan cengeng dengan alur konsumerisme dan sikap latah generasi muda.

Nasionalisme (harus disadari) adalah produk baru, awal abad ke-20, yang sangat rentan tercabik dan koyak-moyak (bahkan boyak) oleh kekerdilan pola pikir dan pola sikap anak bangsa ini–seperti dicontohkan kebanyakan elite. Lebih-lebih mereka yang hanya berjuang untuk partai dan golongan kemudian mengatasnamakan Indonesia. Di sinilah kedewasaan menentukan sikap vis a vis kerapuhan nasionalisme mendapati bentuknya yang paling konfrontatif.

Oleh karenanya, imajinasi tentang NKRI ini harus terus dirawat dan direvitalisasi, terutama di tengah gencarnya pendangkalan nilai-nilai keindonesiaan yang kian ugal-ugalan belakangan ini. Dimulai dari diri sendiri, keluarga, komunitas dan bangsa, semoga kita bisa hijrah dari sikap-sikap ahistoris yang berujung pada deeksistensi diri dan bangsa ini menuju kesadaran semesta dan aksi-aksi nyata. Terima kasih pak Ben, matur nuwun paman el-Ghalayaini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here