Jeruk itu kuning, daun pisang itu hijau, semangka itu merah, kulit orang Indonesia kebanyakan coklat, gigimu kuning dan rasa ini membunuhku.

Selamat bertemu kembali di forum rasan-rasan sains, semoga kita semua tetap dalam lindungan Tuhan yang kita Cinta. Kali ini kita akan sedikit membincang tentang kenapa kita bisa membedakan warna.

Suatu ketika dan ini kisah nyata. Saat saya sedang duduk di kelas 11 Madrasah Aliyah, saya memiliki satu orang kakak tingkat yang sebetulnya dia baik-baik saja dalam proses belajarnya, malah terlihat rapih dan mumpuni di bidang ilmu alam. Saat kakak yang saya maksud ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, belio dengan mengejutkan tidak mengambil kuliah ilmu alam yang selama ini dia kuasai. Singkat cerita saya akhirnya tahu, hal ini dikarenakan ada salah satu persyaratan yang tidak dapat dipenuhi untuk bisa kuliah di ilmu alam, yakni tidak buta warna, dan kakak tingkat tadi ternyata dengan tidak ia sadari mengidap buta warna sebagian. Komentarnya saat itu, hal ini dikarenakan terlalu sering memandang komputer terlalu dekat.

Itu adalah informasi yang sangat baru untuk saya, karena di desa saya perkara sakit mata hanya milik orang tua. Saya nyaris tak pernah bertemu orang yang berkacamata dari kecil sampai saya sekolah setingkat madrasah aliyah. Trand mata sehat yang ada di desa saya entah karena nutrisi mata tercukupi atau karena sedikitnya orang yang suka membaca adalah persoalan yang lain, hahaha.

Dari informasi itu saya jadi tahu ternyata selain orang yang tidak bisa melihat karena buta dan rabun, ada juga orang yang buta warna penuh dan sebagian. Ada beberapa orang yang sangat kesulitan membedakan antara kuning dan hijau, merah dan merah muda, perawan tua dan pewaran muda dan seterusnya-dan seterusnya, heuheu.

Lalu muncul pertanyaan, kenapa ada orang yang tidak dapat membedakan warna? Kenapa ada orang yang bisa membedakan? Namun yang lebih awal perlu kita jawab adalah, kenapa kita bisa melihat?

Persoalan melihat sangat dekat dengan cahaya. Saya rasa teman-teman sudah tahu, lumrah dan bisa membuktikannya sendiri. Sebelum tidur kita mematikan lampu dan tak satu pun bisa kita lihat di kamar. Artinya saat tak ada cahaya, mata kita tidak bisa melihat apapun. Dari informasi ini, bisa kita tarik asumsi awal, bahwa mata kita bisa melihat karena ada cahaya yang masuk ke mata. Sehingga sensor yang ada di mata kita adalah sensor cahaya. Berkaitan dengan energi cahaya yang masuk dan intensitasnya, nanti kita bahas juga perkara ini.

Selanjutnya soal warna, kenapa warna itu ada dan kita dapat membedakannya. Untuk memahami ini, teman-teman bisa melihat warna api. Kita mengenal beragam macam warna api, dari yang kuning, agak oranye, merah sampai biru. Lalu apa yang membuat warna api beragam? Ternyata letak perbedaanya adalah energi, atau dalam bahasa iklan kompor “kompor kami apinya biru, pasti masakan anda cepat matang!”, asumsinya api warna biru adalah lebih panas. Jadi kalau ada iklan kompor yang menyebutkan api biru itu lebih panas dari api oranye, itu benar adanya, no bokis.

Serupa dengan api, kenapa warna sangat beragam itu dikarenakan tingkat energi yang masuk ke mata kita berbeda-beda. Pemahaman ini perlu dikembalikan terlebih dahulu pada teori dualisme sifat materi yang dulu sempat disuarakan oleh einsten dan kolega. Jadi dualisme bukan hanya terjadi di liga Indonesia, PKB dan Golkar saja ya mylov~, tapi materi pun dualisme, heuheu. Pada saat itu, para ilmuan menyebutkan bahwa materi selain punya berat/massa, juga sekaligus memiliki sifat sebagai gelombang, lebih jelas soal dualisme sifat ini bisa kita diskusikan lain waktu.

Singkat cerita cahaya yang kita lihat aslinya adalah seberkas materi yang memiliki masa dan gelombang yang masuk ke mata. Nah yang berhubungan dengan warna ini ya gelombang itu. Beda gelombang akan memiliki warna yang berbeda juga. La untuk gelombang yang lebih kecil, energinya akan lebih besar dan gelombang yang lebih panjang, energinya akan lebih rendah. Ada sebuah gambar yang akan dengan jelas menunjukkan hubungan kekuatan cahaya dengan warna,

Dalam gambar tersebut, warna biru sampai ungu berada di gelombang ukuran 400 nm dan merah sampai orange berada di daerah 700 nm, sehingga ungu memiliki energi yang lebih besar dari merah. Kayake itu si yang menyebabkan saat ini hape ASUS punya fitur filter cahaya biru agar pengguna hape asus tetap aman matanya. Kayaknya lo ya~, mungkin juga ini yang menyebabkan cinta yang biru selalu bergelora, karena energinya tinggi mylov~.

Nah untuk teman-teman yang buta warna adalah mereka yang sensor dalam matanya tidak bisa membedakan kekuatan energi cahaya yang masuk, sehingga semua dianggap sama. Tapi mereka masih bisa membedakan intensitas cahaya yang masuk. Sehingga saat jumlah cahaya yang masuk banyak, ya gambar terlihat terang, tapi kalau yang masuk sedikit, ya sedikit samar-samar gambarnya.

Ya kira-kira seperti itu lah asal usul kenapa kita bisa membedakan warna. Dan semoga kita tidak hanya memandang hidup ini hanya hitam-putih, kanan-kiri, barat-timur, benar-salah sampai halal-haram. Hidup ini terlalu basi kalau hanya binner seperti itu mylov.

Selamat berbelanja, yuhuhu~

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here