Tidak terasa, atmosfer kota Malang bertambah dingin. Banyak orang mengatakan ini adalah musim mahasiswa baru (maba) – musim di mana para mahasiswa akan berbondong- bondong memenuhi gedung pendidikan dan memadati jalan serta warung kopi di sekitarnya. Abaikan musim-musiman itu, yang jelas sore tadi kota Malang yang dingin disertai hujan, menambah sendu Kamis malam Jumat di pertengahan bulan Juli.

Suasana sendu tidak menjadikan para penggiat literasi bermalas- malasan atau melamun dalam kenangan di bawah lampu taman sembari menikmati hujan. Kamis malam itu, mereka berkumpul dalam jamuan yang cukup sederhana, yang mengajak mereka melagu bersama obrolan ringan nan menghangatkan. Obrolan itu terjadi saat momen Halal bi Halal Literasi yang diadakan komunitas Gubuk Tulis Malang.

Tidak jauh beda dengan Halal bi Halal yang dilakukan Soekarno dan KH. Wahab Chasbullah kala itu. Beliau melakukan perjumpaan di tengah situasi politik yang carut marut di tahun 1948. Di mana, Indonesia mengalami disintegrasi bangsa, aktor politik saling serang dan bentrokan DI/TII atau PKI terjadi di mana- mana. Perjumpan atau silaturrahim itu diinginkan oleh Soekarno yang meminta saran kepada KH. Wahab Chasbullah dengan memberikan nama yang berbeda. Akhirnya, Mbah Wahab mengusulkan nama Halal bi Halal, yang dilaksanakan saat idul Fitri di tahun 1948 Masehi, guna meredam gejolak/gangguan di republik tercinta.

Tentu berbeda zaman berbeda pula cara mengatasi persoalannya – dahulu era kemerdekaan dan kini era paska reformasi. Di era paska reformasi ini bukan berarti gejolak seperti itu tidak ada. Akan tetapi, bisa jadi masih ada atau berevolusi dalam wujud yang berbeda dan bertambah menyeramkan.

Era ini adalah era keterbukaan media dan informasi, di mana dengan keterbukaan itu bisa menjadikan Indonesia lebih baik. Indonesia yang lebih mencintai buku, mencintai karya dan mencintai kemanusiaan. Bukan malah membuat gaduh dan menebar kebencian di media online/ siber – apalagi membuat paradigma bumi datar. Di bumi yang telah mengalami perkembangan teknologi yang semakin cepat, pasti yang memiliki paradigma bumi datar itu kan konyol. Terlepas dari hal itu, sengaja atau tidak sengaja – ada hal yang perlu kita benahi. Yakni, sudahkah kita membaca, memahami dan menafsirkan dengan bijaksana, hingga menuliskannya dalam tinta keabadian? Tentu itu adalah bagian dari proses besar bangsa ini.

Akhirnya, perlu lah Halal bi Halal Literasi diselenggarakan. Dan ini kali kedua Gubuk Tulis bersama komunitas literasi di Malang melaksanakannya. Terasa hangat suasana malam tadi, sebuah perjumpaan untuk bertukar cerita dari kampung halaman ke dalam ruang perjumpaan yang biasa kita lakukan atas nama “Literasi dan Indonesia”. Kecintaan mereka terhadap buku, pena dan negeri nya ia abdikan dalam sebuah langkah pasti – langkah literasi. Membangun silaturrahim dalam geliat literasi.

Turut hadir di Rumah Isti Hasan, Perumahan Graha Mulia Kota Malang berbagai komunitas literasi, budaya dan perdamaian. Diantaranya ada komunitas Pelangi Sastra Malang, Gubuk Cerita Malang, GUSDURian Malang, Han Farhani (Hankestra), Gubuk Baca Gang Tatto, Gubuk Baca Lentera Negeri, Rumah Budaya Akar, Rumah Baca Akar, Admin Sabda Perubahan, Bawarasa Surya Aji dan penggiat literasi lainnya. Malam 13 Juli 2017 telah menjadi saksi romansa dialektis para penggiat literasi yang diakhiri dengan santap malam yang aduhai. (Admin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here