Saat ini, di era generasi milenial ini, sedang terjadi Revolusi Industri Ke-4 dimana teknologi berkembang sangat luar biasa dan telah membawa perubahan yang sangat drastis kepada generasi muda kita. Perubahan ini mulai kita rasakan dari cara berkomunikasi, bersosialisasi, kemudahan akses terhadap informasi sampai cara kita berpikir dan respons kita terhadap permasalahan yang ada.

Di era serba instan ini, kita sering melihat berbagai persoalan yang mengoyak-oyak sendi-sendi persatuan bangsa. Maraknya praktik politisasi agama, penyalahgunaan dakwah, eksploitasi umat, hingga banyaknya hate speech, hoax dan fitnah kini membanjiri wajah keberagaman bangsa ini. Ulama-ulama yang mendidik bangsa menjadi bahan olok-olokan dan cacian oleh para pemuda yang masih bau kencur dalam beragama hanya karena bersikap tak sesuai dengan kepentingan beberapa pihak. Sebut saja Gus Mus, beliau adalah salah seorang ulama’ sepuh Rembang yang mendapat makian tak pantas dari seorang pemuda lewat akun twitternya saat membahas sholat jumat yang akan digelar di jalan raya. Belum lagi KH. Ma’ruf Amin yang dulunya disanjung-sanjung, saat ini beralih haluan menjadi sosok yang tak jarang dihina hanya karena tak sependapat dengan golongan tertentu. Kaum minoritas semisal umat agama lain pun seringkali menjadi sasaran kebencian dari beberapa golongan demi ketidaksepahaman antar mereka. Islam yang selama ini terkenal sebagai agama yang santun, indah, sejuk, kini harus menerima getah pahit dari (sebagian) para pengikutnya. Parahnya, kenyataan getir macam itu justru terjadi di kalangan generasi milenial, para pemuda dengan kisaran umur 18-38 tahun, generasi yang saat ini berkutat dengan era teknologi yang sering disebut era 4.0.

Ada 2 esensi nilai yang mulai hilang dari pemuda Islam pada saat ini: Pertama, nilai pemahaman pemuda Islam dari konsep-konsep keislaman, yang kedua adalah memudarnya nilai penerapan dari nilai-nilai keislaman yang diwariskan kepada pemuda Islam.

Memudarnya konsep pemahaman nilai Islam ini antara lain berkenaan dengan pemahaman nas-nas ajaran Islam semisal kitab suci, hadis nabi dan kitab-kitab klasik, penguasaan Bahasa Arab yang identik digunakan pada literatur islam sekaligus amaliyah sehari-hari dan maraknya pembelajaran agama instan yang diakomodir pihak-pihak yang kurang bertanggungjawab di berbagai kajian virtual dan nyata. Tiga hal ini menjadi inti permasalahan atas hilangnya konsep pemahaman nilai Islam yang lambat laun akan membawa Islam ke gerbang kehancuran.

Sedangkan pada penerapan nilai-nilai keislaman, ketidaksesuaian praktik ajaran Islam dalam realitas kehidupan menjadi masalah yang marak terjadi akhir-akhir ini. Ajaran ketuhanan yang ada dalam sumber-sumber teks klasik misalnya, tak jarang dipolitisir oleh berbagai kalangan demi membela kaum mereka, bahkan tak jarang hanya untuk membela kepentingan pribadi. Banyak ormas-ormas maupun lembaga-lembaga yang mendaku sebagai perwakilan Islam (dengan mencatut nama “Islam “ misalnya) yang justru mencoreng nama baik Islam itu sendiri. Islam seakan dikambinghitamkan oleh kepentingan pribadi dan kelompok, demi tujuan sesaat. Dua hal pokok inilah yang saat ini dirasa memudar di kalangan generasi milenial. Miris melihat generasi muda saat ini mulai kehilangan ruh agamanya sendiri. Lalu dimana spirit rahmatan lil alamin itu?

Penulis teringat pada sebuah ungkapan mahfudhot yang sering diajarkan di pesantren: Syubbanul yaum, Rijaalul ghood (Pemuda saat ini adalah pemimpin di masa depan). Generasi muda suatu umat atau bangsa adalah tolak ukur terhadap nasib dan masa depan dari umat atau bangsa tersebut. Jika kita ingin melihat kekuatan dan ketahanan suatu umat dan bangsa, maka lihatlah dari kualitas generasi muda yang mereka miliki.

Jika generasi muda mereka baik, maka pastilah kekuatan mereka juga baik, berpandangan visioner demi kemajuan bangsa. Namun sebaliknya, jika generasi muda suatu bangsa atau umat buruk, maka dapat dipastikan mereka sangat rentan dengan kehancuran. Kualitas pemuda di masa depan dapat diramalkan dari bagaimana mereka saat ini.

Semua agama (khususnya di Indonesia) mengajarkan kebaikan dan kedamaian. Tidak ada ada satu agama atau kepercayaanpun yang mengajarkan pada kebencian. Di Islam, agama dengan mayoritas penganut di negeri Bhinneka Tunggal Ika ini. Orientasi kebaikan dan kedamaian ini tercermin dalam surat Al-Anbiya’ 107 yang berbunyi wamaa arsalnaaka illaa rohmatan lil ‘aalamiin (dan tidaklah kami mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam) dan sebuah hadits nabawi berbunyi innama bu’itstu li utammima makaarimal akhlaaq (sesungguhnya aku (Rasulullah SAW) diutus untuk menyempurnakan akhlak). Kedua dalil tersebut menggambarkan tugas utama dari sang pembawa risalah agama, yakni nabi Muhammad SAW. Beliau hadir justru sebagai penyempurna keindahan Islam dengan mengajarkan umatnya tentang akhlak karimah.

Jika tujuan diutusnya nabi saja untuk menyempurnakan akhlak, maka kita, generasi muda (yang mengaku) sebagai pengikut setia Rasulullah, semestinya menjadi agen yang turut serta menyebarkan keindahan dan kemuliaan akhlak, sebagaimana yang selalu dicontohkan oleh beliau dalam tiap kesempatan hidupnya. Tak hanya sebatas pada golongan kita saja, tapi juga pada golongan lain. Bahkan tak hanya pada manusia, pada alam pun kita tetap dituntut untuk selalu menggunakan keindahan akhlak.  Wajah Islam rahmatan lil alamin harus senantiasa didengungkan sejak dini dimanapun dan kapanpun sebagai counter narasi yang disebarkan kaum radikalis, dimana Islam tak lagi ramah. Islam generasi milenial harus tetap santun, menjaga etika, dan senantiasa menjaga spirit berakhlak karimah. Tetap sejuk, bagaikan oase di sahara degradasi moral bangsa ini. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here