Oleh: Qurrota A’yunin*

 

“Sang putri pun kian menyerap pesona keberlimpahan istana.

Di atas singgasana istana permata ia menjelma atas jelmaan suci di antara alat-alat ritual lainnya. Tidak bergeming, membisu, ia pelihara sunyi sebagai syarat ritual, sangat khitmad;

cahaya di bibirnya menunjukkan senyum, yang melindungi dan cemerlang, dalam citra ilahi.”

Syair Mpu Triguna

 

Dalam roda pemerintahan Kerajaan Mojopahit yang kita kenal didirikan oleh Raden Wijaya, sadar atau tidak, kita digiring oleh para sejarawan pada umumnya untuk terus menerus dijejali dengan tokoh lelaki, lelaki, dan lelaki, misal, Raden Wijaya sebagai pendiri, Mahapatih tersohor bernama Gajah Mada, Raja terbijaksana dan sangat dikagumi rakyat Mojopahit yaitu Hayam Wuruk, Ronggolawe sebagai pemberontak terlicik Kerajaan Mojopahit, Rakrian Kuti sebagai dalang pemberontakan terselubung saat pemerintahan Raja Jayanegara, sedangkan, hanya satu tokoh perempuan yang berhasil dimunculkan dalam sejarah Kerajaan Mojopahit yaitu Ratu Tribhuwana Tunggadewi sebagai pengganti Raja Jayanegara yang terbunuh. Melihat dominasi maskulinitas yang ada dalam sepanjang sejarah Mojopahit, Earl Drake yang pernah menjabat sebagai Duta Besar Kanada untuk Indonesia (1982-1983) hadir dengan karyanya berjudul “Gayatri Rajapatni; Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit” yang mengupas ulang sejarah Mojopahit dengan perspektif yang berbeda dari buku-buku kebanyakan Sehingga, kita dapat menemukan sosok perempuan yang nyaris tidak kita kenal karena namanya tenggelam diantara para pelaku sejarah laki-laki pada zamannya. Sosok tokoh perempuan yang pernah dimiliki oleh Nusantara ini ialah Gayatri.

Beliau seorang Rajapatni (istri raja) dari Kerajaan Mojopahit yang memiliki peran penting dalam menyatukan Nusantara yang terdiri dari ribuan gugusan pulau dan hingga saat ini masih dapat kita rasakan keutuhan dari bersatunya wilayah sporadis yang bernama Indonesia ini. Gayatri, ia hanya ingin dipanggil Gayatri saat masih kecil meskipun sesungguhnya ia bergelar Dyah Dewi Gayatri Kumara Rajassa sebagai putri bungsu dari Raja Agung Kertanegara dari Kerajaan Singosari.

Tokoh perempuan Jawa kuno ini kerap tertutupi oleh tirai sejarah yang hanya menguraikan wilayah peran laki-laki sebagai pelaku sejarah nomor wahid, dan lebih fokus pada pertempuran merebut daerah kekuasaan, yang dicitrakan sebagai panglima terkuat, tergagah, terbijaksana dalam menjalankan roda pemeritahan pada kerajaan, dan banyak lagi citra-citra yang sangat berhasil membuat tokoh perempuan dalam wacana sejarah semakin terbungkam, tertutupi sekaligus terpendam dan tak pernah muncul ke permukaan. Drake (2012) mengatakan, Gayatri Rajapatni masih saja menjadi sosok yang asing bagi bangsanya sendiri dan sama sekali tak dikenal di seluruh dunia. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor: 1. Ia tak pernah dinobatkan secara resmi menjadi seorang ratu yang memerintah (dan ia pun memilih masuk biara ketika sedang berada pada puncak kekuasaan); 2. Syair epik yang menjadi bukti atas jasa dan ketenarannya yang luar biasa hilang selama lima ratus tahun dan baru belakangan saja diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris sehingga mudah untuk dimengerti dan baru diketahui halayak.

Selama hidupnya, Ratu Gayatri memainkan peranan-peranan penting dalam pemerintahan Mojopahit; ia merupakan rantai pembaharu antara ayahnya, raja terakhir dari dinasti terdahulu; suaminya, yang tak lain raja pertama dari dinasti baru; kemudian anaknya, Tribhuwana Tunggadewi sebagai raja ketiga; dan cucunya, Hayam Wuruk sebagai raja yang termashur karena berhasil membawa kesejahteraan dan kejayaan bagi kerajaannya. Pada saat Raja Jayanegara mangkat, satu-satunya aristokrat yang mengambil alih tata kuasa kerajaan hingga dinobatkan raja penganti adalah Gayatri Rajapatni. Pada saat itu, dirinya adalah seorang ibu suri dimana saat singgasana kerajaan kosong maka dia bertanggung jawab untuk menjalankan roda pemerintahan. Manjadi persoalan yang penting dan genting bagi Gayatri untuk sesegera mungkin membuat keputusan mengingat ada begitu banyak bangsawan muda yang ingin membidik Mojopahit dan siap angkat senjata seandainya mereka melihat kesempatan di balik kekosongan tahta. Satu-satunya orang yang dimintai pertimbangan adalah Gajah Mada, pemuda dari kasta sudra yang tengah naik daun karena telah dengan cerdik dan perkasa menumpas pemberontakan Rakuti yang baru-baru telah terjadi pada masa itu. Pada saat-saat itulah Gayatri mulai menyusupkan sedikit demi sedikit cita-cita mendiang ayahandanya, Prabu Kertanegara, tentang menyatukan wilayah Nusantara yang tercecer atas bagian pulau-pulau menjadi negara dengan satu kesatuan dan kebangsaan di bawah panji Kerajaan Singosari. Cita-cita leluhurnya itu harus terkubur bersamaan dengan runtuhnya Kerajaan Singosari akibat serangan Jayakatwang dari Kediri.

Sebegitu kokohnya keyakinan Gayatri menyimpan mimpi besar itu hingga kemudian ia menemukan pemuda tangguh yang akan dapat mewujudkannya. Gajah Mada sebagai pemuda terpilih dengan ketangkasan dan kecerdikannya Gayatri memilihnya  sebagai sosok panglima yang kemudian diangkat menjadi Mahapatih Kerajaan Mojopahit menemani putri sulungnya, Tribhuwana Tunggadewi sebagai Raja yang baru dinobatkan.

Saat Gajah Mada sebagai Mahapatih mulai menjalankan titahnya, berangkat dari mimpi Gayatrilah sumpah “Amukti Palapa” tercetuskan terucap lantang dan gagah berani untuk memperluas wilayah kerajaan, dengan menyatukan Nusantara;

Sebelum menyatukan seantero Nusantara, dari Sabang, Maluku hingga Lombok, seluruh Jawa termasuk Sunda, sampai ke Sumatra dan Pahang, aku takkan bisa tenang dan menikmati hidup.” (Pararaton, bab IX)

Dapat dirasakan bahwa pengaruh Gayatri pada masa kejayaan Majapahit sangatlah penting. Hal itu terbukti dengan adanya beberapa syair dalam kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca yang mengumandangkan kepedihan yang teramat dalam saat Gayatri telah wafat.

“Mengenai Rajapatni yang termasyhur, ia nenek Raja dari pihak ibu,

Yang menyerupai wujud para dewi, pelindung sempurna bagi dunia.

Para pangeran melangsungkan upacara pemakaman untuk yang wafat,

Sehingga mereka sanggup membahagiakan Rajapatni

Yang kepadanya upacara mereka persembahkan.

Semoga ia tergerak untuk mencurahkan kemakmuran atas kerajaan.

Esok paginya, umat budhis datang untuk memuja dan mengantar arwah pujaan mereka,

Ia pun menjelma Prajnaparamita, kembali ke rumah Budah yang agung.” (Negarakertagama, bab 2 dan 67)

Dengan berbagai latar belakang sejarah yang terkupas ulang, Gayatri adalah sosok perempuan yang patut dikagumi atas kerendahan hatinya, keberanian sekaligus kebijaksanaanya, dan merintis sebuah peranan yang lebih bermakna bagi perempuan. Gayatri yang ditempa oleh pengetahuan, akal budi, dan kasih sayang hadir dalam mengantar Mojopahit dalam sebuah kejayaan yang pernah ada yaitu kekuasaan seantero Nusantara. Olehnya, hingga kini negara kita tetap satu kesatuan meski wilayah yang terbagi atas pulau-pulau. Gayatri dewasa ini patut dikaji kembali, dari beberapa literatur yang mulai bermunculan terjemahan dari pararaton. Mulai dari pendidikan yang dienyam sebagai putri bungsu Kertanegara (Raja terahir Singosari) dan penjelajahannya bersama Sanggrama Wijaya membuka desa tarik, hingga membangun Mojopahit bersama anak dan Mahapatihnya yang setia.

 

Daftar Baca:

Drake, Earl. 2012. Gayatri Rajapatni; Perempuan Di Balik Kejayaan Majapahit. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Pararaton, 1996. Diterjemahkan oleh Dr. I Gusti Putu Phalagundi. Sundeep Prakashan, New Delhi.

S., Robson. 1995. Desawarnana (Negarakertagama). Leiden: KITLV Press.

 

*Penulis adalah penerima beasiswa Afirmasi LPDP 2017, dan ia asli Mojokerto pegiat gubukjustice lintas kota

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here