Menjadi guru, bukanlah sekedar tuntutan profesi yang harus berbuntut gaji, lebih dari itu, mengajar adalah tuntutan hati nurani. KH. Bashori Alwi, pengasuh Pondok Ilmu Qur’an (PIQ) Singosari pernah dawuh yang kurang lebih seperti ini, “Segala sesuatu itu ada zakatnya, dan zakatnya ilmu adalah mengajar”. Sebagaimana yang kita tahu, bahwa zakat adalah salah satu rukun islam yang wajib ditunaikan bagi orang yang mampu. Dan kadar mampu, bukanlah terletak pada mentalitas kita; keberanian kita mengajar, tapi lebih pada ilmu yang dititipkan pada kita.

Akhir-akhir ini seringkali kita temui, banyak di antara rekan-rekan kita, baik dari kalangan mahasiswa maupun dari kalangan santri yang sudah meninggalkan budaya mengajar. Ada yang beralasan malas, belum mampu, sibuk, dan banyak alasan lain. Mereka yang telah dianugerahi ilmu lebih banyak memilih mundur, dan pada akhirnya, dunia pendidikan dipegang oleh mereka yang sebenarnya ilmunya kurang matang (jika dibandingkan mereka yang menolak), namun dengan keikhlasan yang luar biasa.

Di antara mereka yang kurang mampu itu, banyak yang memang berniat khidmah, mengabdikan diri agar bisa bermanfaat bagi umat. Setidaknya, ada satu hal yang menjadi poin plus mereka; ikhlas berkhidmah. KH. Syamsul Hadi Abdan, pengasuh Gontor suatu ketika dawuh, “Dengan persiapan yang pasti, hati yang yakin, seorang guru siap untuk mengajar. Guru mengajar santri-santrinya, sekaligus mengajar dirinya sendiri”. Mengajar, pada dasarnya sama dengan belajar. Ada ilmu-ilmu baru yang akan kita terima saat mengajar. Dan dari situlah seorang guru berproses.

KH.Marzuki Mustamar, pengasuh PP.Sabilurrosyad Gasek, ketika tasyakuran wisuda santri-santrinya, sering berpesan kepada para santri, para wisudawan khususnya, agar tidak meninggalkan kegiatan mengajar, meskipun nanti hanya sekedar mengajar TPQ.

Dengan mengajar, kita membuktikan eksistensi kebermanfaatan ilmu. Saat keadaan telah memilih kita menjadi seorang pengajar, maka mantapkan hati, ikhlaskan niat, karena dari situlah peluang manfaat bagi umat. Kita sedang dipilih untuk mau berproses, karena sebagaimana dawuh KH. Kafabihi Mahrus, ilmu itu yang paling penting manfaat dan barokahnya. Jadi, kita tinggal pilih, apakah kita termasuk orang ingin memberi manfaat bagi umat atau tidak?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here