Radikalisme diera millenial merupakan istilah yang sudah tak asing lagi, bahkan senantiasa menjadi topik-topik hangat dalam perbincangan kalangan akademisi dan aktivis sosial-keagamaan. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, mengapa anti radikalisme selalu menjadi trending topic dalam ajang seminar-seminar keagaman? Apa yang kemudian dikatakan radikal? Dan bagaimana sebenarnya generasi millenial membangun mindset yang tepat dalam menghadapi radikalisme? Penulis akan sedikit mengulas dan berbagi terkait isu ini dari hasil Kongkow yang diadakan Garuda Malang bersama generasi muda Malang, di Gedung Pascasarjana Hukum UB, awal pekan lalu.

***

Dinamika masyarakat saat ini cenderung mengalami perkembangan dan perubahan kultur yang sangat pesat, menanggapi hal tersebut tidak serta-merta kemudian kita memberi sekat terhadap perubahan yang dianggap keluar dari frame atau kebiasaan sebelumnya. Salah satunya dengan munculnya paham-paham yang dianggap radikal oleh satu golongan terhadap golongan yang lain. Sehingga, masyarakat kemudian ter-konstruk menyuarakan gerakan anti-radikalisme. Istilah “Anti” merupakan bentuk konotasi negatif terhadap segala hal. Secara otomatis gerakan anti-radikalisme cukup menarik perhatian publik, terutama golongan yang memilki asumsi bahwa segala hal yang berbeda dengan golongannya sendiri dianggap radikal bahkan sesat. Asumsi-asumsi inilah yang kemudian membangun teori-teori yang berkembang di masyarakat terkait berbagai hal yang menyangkut kehidupan sosial, agama, dan budaya masyarakat itu sendiri.

Tantangan utama generasi millenial terlebih dalam menghadapi gerakan-gerakan anti radikalisme inni dapat dibagi menjadi tiga hal. Pertama, perlu adanya upaya untuk membangun budaya kritis. Karena tidak dapat dipungkiri sebenarnya generasi saat ini minim sekali dalam hal intelektualitas, jika diukur budaya kritis masyarakat mengalami penurunan sehingga diperlukan adanya upaya untuk membangun hal tersebut. Kedua, ideal yang semu (bukan idela yang nyata) dan realitas yang terputus. Ini merupakan dampak negatif utama yang disebabkan oleh medsos, yang memicu timbulnya pemikiran-pemikiran semu yang tidak tertuang secara langsung dalam kehidupan real. Yang terakhir adalah Kurangnya ruang apresiasi diri. Generasi millenial saat ini cenderung enggan bersosialisasi dan sibuk dengan gawai mereka masing-masing. Sehingga, jangan diherankan jika kemudian mereka memiliki ruang yang sempit untuk mengapresiasikan diri dalam kehidupan real, sehingga berdampak pada hilangnya kearifan-kearifan dan budaya lokal yang ada di Indonesia sat ini.

Era millenial menjadi masa yang sangat riskan, karena masyarakat cenderung memiliki kesadaran dogmatis terhadap agama. Kunci utama untuk memperbaiki mindset generasi millenial terkait beragam isu radikalisme yang bertebaran di media adalah dengan menanamkan pola pikir yang kritis dalam segala hal tidak melulu agama, serta membudayakan sikap kooperatif, bukan lagi kompetitif. Dan membiasakan diri dengan semangat apresiasi bukan hanya harmonisasi. Karena dengan memberikan ruang apresiasi lebih bagi mereka generasi muda justru akan menjaga keharmonisan antar bangsa dan agama.

Generasi muda saat ini dengan dibenturkan terhadap isu-isu agama dan keberagaman, haruslah berpegang teguh, pada ideologi bangsa yakni nilai-nilai Pancasila, sekaligus 9 nilai Gus Dur tentunya. Inilah yang kemudian memantik generasi muda khususnya di kota malang bersama Gusdurian Muda Malang, membacakan deklarasi sebagai bentuk menyuarakan Anti Radikalisme dan menjunjung perdamaian di bumi Indonesia.

*Tulisan ini disarikan dari hasil Kongkow Anti Radikalisme untuk Generasi Millenial yang diadakan oleh Gusdurian Muda Malang, dengan pemateri Kristanto Budiprabowo, Ach. Dhofir Zuhry, dan Al Muiz Liddinillah. (Ged. Pascasarjana Hukum UB, 20/08)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here