Tak banyak yang Mentari inginkan kecuali sebaris kalimat: cintalah yang membuat kita sesekali betah bertahan, karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan, baiknya mengenal suara sendiri dalam mengarungi suara-suara luar sana, sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa langkah ke mana saja* Ia ingat kalimat itu diucapkan Bronto sehari sebelum menghadiri undangan pertunjukan Remo di Banyuwangi, dan Bronto dengan berat hati menolak permintaan Mentari ketika mau ikut dalam rombongan pertunjukan Remo.

Sebenarnya Bronto menginginkan Mentari ikut serta dalam rombongan pertunjukan itu, ia tak bisa berjauh-jauhan dengannya kehadiran Mentari yang memang tak hanya cantik tapi juga dikenal sebagai penari bisa menjadi daya tawar tersendiri bagi kelompok Remo Bronto. Tapi situasi dan kondisi tak memungkinkan di mana-mana, banyak kerusuhan dan pembunuhan terhadap kelompok-kelompok agama yang diduga sesat bahkan guru mengaji yang diduga memiliki ilmu santet tak enggan dipenggal kepalanya sebelum tubuhnya diarak di jalanan, kelompok-kelompok kesenian tak luput dari sasaran itu, dan Bronto tidak mau perempuan yang diam-diam dicintainya itu menjadi korban dari keberingasan pembunuh, yang mengatas namakan dirinya petugas negara.
“Keadaan tak memungkinkan, pulang lah, bawa kendi warisan ini.” suara Bronto terdengar serak. “Bacakan sesuatu ketika rindu, kita akan hadir lewat pantulan dan riak air dalam kendi ini,” Bronto menyerahkan satu kendi kepada Mentari, kendi yang satu ia bawa sendiri.

Sejak itu Mentari dan Bronto tak pernah lagi bertemu. Sejak itu pula Mentari tak pernah berjauhan dengan kendi. Kendi itu ia letakkan di atas meja dekat ranjang tidurnya, sebelum berangkat tidur ia tak pernah lupa membersihkan kendi itu, di sekitar kendi ia taburkan kembang tujuh rupa, juga satu kaktus bunga kesukaannya. Bila Mentari rindu maka ia segera beranjak dan membawa kendi ke dekat jendela lalu di muka kendi yang berisi air, konon kata Bronto, air mantra, ia ucapkan sebaris kalimat yang diyakini apa yang ia ucapkan akan sampai ke Bronto, yang entah kini ada di mana.

Hanya dengan kendi itu Mentari dapat merasakan kehadiran Bronto, ia merasa sedang bermuka-muka, hanya lewat kendi ini, gumam Mentari sembari mengingat kejadian bertahun-tahun silam ketika ia hendak menari dalam pertunjukan remo, Bronto memberinya minuman yang airnya diambil dari dalam kendi itu, “air dari dalam kendi adalah air yang sudah dimantarai,” ucap Bronto seusai menuangkan air kendi ke dalam gelas. Mentari menerimanya sambil mengulum senyum sehingga membuat Bronto tersipu dan sekaligus merasakan gejolak batin.

Tidak ada yang tahu tentang mantra itu, demikian juga dengan Mentari, ia hanya merasakan sesuatu yang lain bergerak dalam dirinya bahkan ketika hendak menari remo tak sedikit penonton terpukau dengan tariannya, sambutan dan tepuk tangan memenuhi area pertunjukan. Mentari heran dengan gerakan-gerakannya saat menari, ia merasa bukan lah dirinya yang sedang menari tapi ada mahluk lain dalam dirinya yang menggerakkan tangan dan kakinya.

Mentari hanya berteman bayangan. Ia merasa tidak pernah menapakkan kakinya di atas bumi karena yang ada hanyalah hayalan. Baginya nyata itu sembilu. Bingung dengan arah yang sudah pasti. Tapi tidak untuk kecantikannya karena tak ada satupun lelaki yang tak berhasrat kala melihat paras wajahnya, apalagi saat ia menari. Malaikat pun akan tergoda.
Kembali Mentari melihat genangan air dalam kendi. Wajah cantiknya terpantul dalam genangan itu. Dalam diam, Mentari merindukan Bronto. Kerinduan yang tersimpan dalam-dalam di lubuk hatinya. Begitu juga dengan Bronto. Ia begitu merindukan Mentari seperti merindukan matahari pagi menyusup lewat sela jendela.

***
Bronto menaburkan kembang melati di pelataran rumahnya dan kendi yang sedari tadi didekap seusai ia dibersihkan. Seusai menaburkan melati Bronto menciumi permukaan kendi sambil melafalkan mantra dan membayang bibir Mentari, yang sudah bertahun-tahun tak pernah ia jumpai. Kemudian dibayangkannya raut wajah kekasihnya, yang perlahan hadir lewat pantulan air dalam kendi yang didekapnya. Angin sore mendesir silir menerpa raut wajahnya yang kurus dan hampir tak terawat.

Ya, sejak jauh dari Mentari Bronto tak pernah pagi merawat dirinya bahkan ia jarang mandi. Hari-harinya tak pernah jauh dari kendi, dan sambil menghadap kendi ia tiada jemu memanggil-manggil nama kekasihnya, Mentari.

Cahaya senja semakin susut, hari mulai gelap, dan suasana sekitar pun lengang selengang hatinya yang hampa dan kosong. Sejenak ia beranjak dan meninggalkan kendi itu dekat bantal tidurnya. Tapi sesaat berselang Bronto kembali meraih kendi, ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba ingin meraih lagi kendi yang baru saja ia letakkan. Ia seperti merasa dituntun tangan gaib untuk meraih dan mendekap kembali kendi. Ditatapnya lubang kendi itu dan mendadak ia penasaran dengan pantulan seraut wajah dari dalam kendi itu. Ia pangling dan bingung dengan pantulan wajah itu.

Cahaya bulan rebah di jendela. Bronto yang sejak sore.

“Siapakah kamu?” tanya Bronto.

“Aku seorang penari. Aku kekasihmu.”

Dua mata itu beradu, Mentari mengulurkan tangganya pada Bronto, dan Bronto menyambut tangan itu. Tangan itu menggandengnya menuju rumah tempat Acara pembacaan puisi yang tak jauh dari rumah Bronto sendiri.

Saat memasuki rumah, terpampang di panggung pertunjukan Tari Remo. Namun, saat melihat pertunjukkan, Mentari tiba-tiba murung melihat penari Remo di atas pangung. Raut kusam menghapus senyum cantik Mentari. Bronto menatap mata perempuan yang sudah bertahun-tahun dirindukan itu tidak lagi bersinar.

Langit kelabu menjadi penanda hujan akan turun. Mentari melangkahkan kakinya keluar rumah sambil menarik tangan Bronto. Ia mengajak Bronto untuk menyaksikan tetesan air yang jatuh dari langit, seakan mengisyaratkan, Jangan akhiri pertemuan kita!

Keduanya berdiri menyaksikan genangan air hujan. Apa yang terpapar hanya bayangan Bronto sendiri. Seketika Bronto terkejut. Apa yang ia saksikan dalam genangan air itu hanya dirinya seorang. Tidak ada bayangan Mentari duduk di sampingnya. Ia kalut. Lalu ia menoleh ke samping dan bertanya pada Mentari, “Kenapa aku tidak menemukan bayanganmu, Mentari kekasihku?”
“Karena aku yang di depanmu adalah bayangan itu sendiri.”

Bronto semakin bingung. Sepuluh tahun tak bertemu dan kerinduan itu mulai terobati, tapi semua itu hanya bayangan. Bronto menepuk pipinya dengan keras. Tak percaya dengan yang dilihatnya. Seolah semua itu adalah ilusi.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Mentari yang duduk di sampingnya.

Bisikan itu terdengar sangat jelas di telinga Bronto. Terdengar suaranya yang tidak asing, suara kekasihnya. Tak salah lagi. Ia menoleh pada genangan air di depannya. Tak ada sosok Mentari. Lalu ia menoleh ke sampingnya, Mentari melenyap. Tak ada siapapun.

Kekalutannya menyeruak. Tapi ke mana wanita itu pergi? Lalu tangan siapa yang aku genggam? Bronto mengumpulkan ingatannya. Ia berlari ke barisan penonton. Di sana, ia hanya menemukan selembar kertas yang bertulis.

Simpan mantraku.
Aku ingin melihat bunga cantik dengan guyuran bait yang indah,
seperti mimpiku bersanding dengan syairmu, jika aku tidak kunjung bangun dari tidur, aku ingin kau mengecup keningku,
dan saat itu aku benar-benar tertidur selamanya.

***
Setiap kali Bronto melihat penari Remo pada pembuka pertunjukan Tari Remo ia merasa tersihir, seakan-akan yang terlihat dari penari itu adalah Mentari. Tidak seperti bayangan tapi nyata. Peristiwa itu membuat Bronto merasa begitu ingin berjumpa dengannya lagi. Bronto duduk di kursi penonton, sambil berulang-ulang membaca mantranya. Ia berusaha memaknai setiap bait yang tertulis. Dalam hatinya berkata,
“Ini adalah tulisan yang ia berikan di waktu terakhir kali bertemu denganya, satu tahun yang lalu. Tepat tanggal dua belas Desember 2015 di sebuah acara pesta puisi rumah canda. Tepat jam dua belas malam saat ia beranjak ingin meninggalkan acara, ia memberi selembar kertas dengan tulisan tangan.”

Bronto tak mampu menghapus peristiwa yang sudah berlalu. Peristiwa Pertunjukan Puisi itu adalah pertemuan pertama sejak sepuluh tahun. Kali bertemu setelah setahun lamanya berpisah. Bronto tak tahan lagi. Ia menekatkan hatinya untuk mencari tahu keberadaan Mentari. Ia mulai mengumpulkan jejak yang pernah pernah ditinggalkan. Melihat kembali lembaran-lembaran tulisan Mentari sejak sepuluh tahun lalu. Berharap menemukan sebuah petunjuk. Di lembar terakhir tertulis nama beserta alamat rumah sang wanita. Aku harus mendatangi rumah itu, aku sangat merindukanmu Mentari.

***
Rumah itu terlihat bangunan tua. Kapur putihnya memudar. Ketika matanya memandang tidak ada seorang pun yang tertangkap matanya. Langkah kakinya membawanya masuk ke rumah tersebut. Satu langkah sebelum mencapai pintu rumah, ada suara yang menyapanya dari balik pintu. Seorang ibu bertanya, “Siapa yang kamu cari?”

Laki-laki itu terkejut dan menjawab dengan terbata-bata, “Apa saya bisa bertemu Mentari?”

Ibu itu bertanya kembali, “Siapa namamu?”
Dengan perasaan tidak enak, ia menjawab, “Saya Bronto.”

Ibu itu tersenyum. Ia masuk ke dalam kamar mengambil sesuatu, lalu melangkah ke luar lagi. Bronto tak mengerti apa yang harus mereka lakukan. Kemudian ibu itu mengajak Bronto ke samping rumah lalu ditunjukkannya gundukan tanah bertabur bunga mawar dan melati. Ada nisan yang bertuliskan.
MENTARI
Wafat 12 Desember 2015
Bronto mematung. Air matanya ingin menetes tapi membeku. Tanggal itu adalah tanggal yang sama dengan tanggal surat yang Mentari berikan. Ia masih menatapi nisan itu, jutaan kenangan berkelebat dalam benaknya.

Lalu dipertunjukan kemarin siapa yang aku jumpai? Apakah serupa jasad tak bernyawa atau kah hanya bayangan semu semata?
Melihat keterkejutan Bronto, Ibu itu berbisik di telinganya, “Mentari terkubur setahun lalu tepat setelah acara malam yang begitu ia nantikan. Ia meninggalkan buku harian dengan sampul yang tertulis kalimat Menyimpan dalam Genangan Air. Mungkin ini untukmu.” Ibu itu menyodorkan buku harian tebal. Kemudian ibu itu meninggalkan Bronto sendirian menatapi gundakan dan nisan. Bronto kembali teringat mantra yang tertulis, Aku ingin kau mengecup keningku, dan saat itu aku benar-benar tertidur selamanya.

Laki-laki itu menyentuh batu nisan sambil berkata, “Apakah mantra itu sebuah pertanda dan apakah dalam pertemuan itu kau sedang berpamitan padaku?”
Dengan tangan gemeter Bronto mulai membuka dan menbaca buku harian yang tertulis adalah:

Lembar pertama
Apalah arti tulisan. Bagiku yang tertulis adalah sebuah kesaksian yang tak dapat terucakap karena belenggu yang begitu kuat. Otakku tak lagi mampu menyimpan sebuah kenangan. Dengan buku harian ini aku membaginya. Aku meninggalkan jejak perih yang kurasa. Setidaknya buku ini menjadi bukti adanya aku. Pada buku ini aku berseru akan sakit yang kuderita. Aku tak bersuara. Tenggorokanku sudah amat kering.

Aku menyimpan pedih. Aku tak mampu lagi bertahan karena sakit yang begitu mendalam. Ramuan apa yang bisa aku teguk hingga dapat berkurang sakit itu? Ramuan apa yang bisa membebaskanku dari perih yang amat menyayat?
Aku bertahan hanya ingin terlihat kuat. Hari-hari kulalui seperti laut dengan ombak bergelombang. Berkejar-kejaran. Terkadang pasang, terkadang surut. Aku tak sanggup dengan gelar yang takdir berikan. Siangku terasa malam. Malamku terasa sepi. Terkadang aku bingung, ke mana harus berlari dan sembunyi? Sesekali aku ingin menjerit, kenapa harus aku Tuhan?

Rasa tidak adil seperti kilatan petir. Menggosongkan tubuh. Aku kembali sadar, ini adalah nikmat yang harus kuterima dengan rasa pedih. Di situlah aku mulai bisa merasakan manis, pahit, asin dan hambarnya kehidupan. Bukan aku satu-satunya wanita yang hidupnya berakhir tidak menyenangkan. Kini aku merasakan yang mereka rasakan. Kehormatan terkadang tidak lagi penting karena tidak ada lagi yang harus dipertahankan.
Aku bagian dari kisah kelamnya wanita. Wanita yang tidak lagi suci karena runtuhnya sebuah pertahanan. Andai aku tahu seperti ini sakitnya sendiri. Tapi hidup adalah pilihan yang harus dijalani. Dan terkadang kematian juga menjadi permintaan. Ingin kuberi tahu padamu, aku memilih menjadi janda.

Bronto tak mampu membuka lembar-lembar berikutnya. Yang ia bayangkan hanya wajah Mentari mendekap erat kekasihnya.

* catatan: dikutip dari puisi Melompat, karya Umbu Landu Paranggi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here