Dialog Sejarah bersama John Rossa

0
368
Gambar: Al Muiz Ld.

Di tengah euforia kawan-kawan yang sedang ramai membahas isu perempuan, Gubuk Tulis mendapat kesempatan untuk berbincang secara intensif dengan John Roosa. Penulis buku Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto ini membagi malam minggunya dengan berbincang bebas mengenai serba-serbi sejarah. Bukan suatu kebetulan bahwa pada malam tersebut, tanggal 11 Maret 2017, menjadi pengingat 51 tahun peristiwa Supersemar. Perbincangan tidak dimulai dari faksisitas sejarah Supersemar, namun dengan hal-hal sederhana yaitu; apakah kita pernah bertanya?

John dalam awal perbincangan memperkenalkan dirinya sebagai seorang sejarawan dan tenaga pengajar di Kanada. Ia tertarik dengan sejarah karena semenjak muda ia sering mempertanyakan asal-usul dari segala sesuatu. Semua hal, semua benda, semua kejadian memiliki penyebab dan cerita. Sejarah merupakan cerita yang terangkum dalam balutan waktu. Sejarah yang menjadi indikator peradaban. Sejarah juga yang berperan besar dalam penyadaran manusia melalui kekayaan informasinya.

Manusia tidak akan menjadi manusia seutuhnya apabila ia tidak memiliki kepedulian akan lingkungan sekitarnya. Kepedulian yang paling sederhana dimulai dengan rasa ingin tahu, dimulai dari sebuah pertanyaan. Pertanyaan mengapa ada – dapat menjadi permulaan untuk mencari tahu sebab-musabab segala hal. John mengajak kita untuk mempertanyakan sendok, kopi, korek, baju, uang kertas dan segala hal yang berada di sekitar kita. Dengan demikian sejarah menimbulkan kepedulian dan ketajaman seseorang di dalam kehidupan.

Perbincangan mengalir dan merambah ke ranah pendidikan. John menyatakan bahwa tingkat kesadaran sejarah di Indonesia relatif rendah. Hal demikian dapat dilihat dari minat siswa ketika mendapatkan mata pelajaran sejarah di sekolah. Tidak banyak siswa yang berminat. Namun hal ini bukan semata-mata menjadi kesalahan dari pihak pelajar. Baik metode dan kurikulum pendidikan sejarah juga kurang mendukung masyarakat untuk melek sejarah. Siswa hanya dipaksa untuk menghafal, tanpa memiliki kesempatan untuk mencari sumber sejarah lainnya. Bahkan tanpa narasi yang baik, tanpa hak untuk memilah-memilih sejarah yang disodorkan kepada mereka. Ilmu sejarah di sekolah sedemikian positifis-nya sehingga melahirkan masyarakat yang acuh terhadap sejarah.

Dalam menghadapi hal ini John mengajak kita untuk kembali mempertanyakan segala sesuatu, mencari semakin banyak sumber sejarah, meng-crosscheck­-nya, membandingkannya kembali. Dan yang paling penting adalah menilainya dengan hati nurani. Sejarah digali untuk keutamaan manusia, untuk menegakkan kembali nilai-nilai kemanusiaan. Sejarah dicari agar manusia dapat mempelajari bagaimana berbagai keputusan, kepentingan dan inovasi dapat mengubah dunia dalam waktu. Sejarah ditelusuri karena rasa ingin tahu, bukan karena kebanggaan untuk menggurui. Maka dari itu, sejarah menjadikan manusia berziarah tanpa henti. Untuk memudahkan proses ini, manusia juga dapat melakukan periodeisasi. Dengan membagi kejadian dalam satuan-satuan waktu, kita dapat mengamati lebih jelas bagaimana kompleksitas konteks membentuk manusia.

Indonesia sebagai bangsa yang besar, menarik minat seluruh masyarakat dunia untuk mempelajarinya. Berbagai peradaban lahir di rahim bangsa ini. Berbagai penemuan, kejadian dan peristiwa berpengaruh bagi bangsa-bangsa lain di dunia. Jika ingin mengembalikan kejayaan Indonesia, maka masyarakat harus dikembalikan pada kesadaran sejarahnya. Namun pemberangusan manusia dari hak pengetahuannya (termasuk sejarah) dapat disinyalir sebagai usaha pemangku kepentingan untuk mengkerdilkan Indonesia. Masyarakat tidak boleh jauh dari sejarahnya, kebenaran dapat menjadi bahan bakar sekaligus cermin bagi gerakan bangsa ke depan. Apabila dijauhkan, maka bangsa tersebut hanya akan dikuasai oleh kepentingan pemeras dengan berbagai nama (ex: fasisme, kapitalisme dan radikalisme).

Pesan singkat John dalam diskusi malam itu adalah bagaimana kita tetap mempertanyakan segala sesuatu. Dunia penuh dengan kontradiksi, sejarah pun dapat menjadi senjata untuk menebarkan kebencian. Oleh karena itu, manusia harus belajar untuk bertanya dan menilai secara kritis. Nalar harus disertai dengan hati bersih. Sejarah tidak selalu dimiliki oleh pemenang, ia juga ada di sisi mereka yang kalah. Lebih tepatnya, sejarah berada di antara mereka yang ingin terus belajar. (Ilham Muhammad)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here