Rutinitas yang kita lakukan setiap hari Minggu di taman atau ruang publik di kota Malang. Tahun 2017 ini bukan akhir dari gerakan kami yang kata orang luar biasa dan banyak yang ngelike ketika posting foto kegiatan kami di media sosial. Bukan tidak sepakat dengan mereka tapi apa yang kami lakukan hanyalah membawa buku dari rak dipindah ke kardus dan tas rangsel lalu digotong pindah ke taman, setelah itu tulisan tebar baca gratis dari gubuk tulis dipajang, buku ditata rapi lalu sembari teriak-teriak, “ayo baca dik, gratis!” tak lama kemudian adik-adik datang berbondong-bondong, kita menawarkan beragam buku seperti bakul jamu yang bertanya kebutuhannya untuk apa, adik-adik bagi kami sangat menghibur, meski kadang hanya membaca dua halaman lalu ditinggal lari dan datang lagi ambil buku dengan judul yang lain lagi, kami kadang juga heran, apakah meraka paham denga yang dibaca, tapi sudahlah, itu tak jadi soal bagi kami, beda lagi dengan yang membaca sampai selesai dia hanya tersenyum melihat kita dan bilang “terima kasih”.

Kami hanya meluangkan waktu untuk melapak tanpa maksud yang berlebih, seperti mencerdaskan anak bangsa. Sungguh mustahil, tapi kami tak tega jika buku tak lagi digemari, jika buku tak lagi menarik, jika waktu tak lagi berharga untuk membaca. Memang tak ada yang sia-sia dengan upaya yang kami lakukan tapi sepanjang tahun ini tak terasa gerakan kami hanya begitu-begitu saja, tak pernah ada keinginan untuk berhenti, kami masih ingin ngelapak berpindah-pindah tempat dengan wajah pembaca yang berbeda-beda, secara tersirat mereka mengajarkan kami bagaimana cara bersabar dan mencintai tanpa pamrih.

Begitulah buku membuat kita mengerti, ternyata tebar baca yang kami lakukan bukan hanya untuk menarik orang untuk suka membaca, tapi membuat kita sadar buku bisa mempertemukan, mendekatkan, menghibur, dan membuat kita bersabar dengan kata bosan.

Semoga dan semoga tetap panjang umur literasi. Mari kita bersama membaca Doa Literasi, karya Prof Djoko Saryono;

Ya Allah yang mahaliterati, bebaskan kami dari kebutaan atas huruf-huruf yang berhamburan saban hari. Biar kami melek apa yang ada di sebalik rentetan bunyi yang berdiam di ruas kitab atau ruang komunikasi. Biar kami tak sembarangan, dan sembrono mencatat dan mengalirkan informasi, yang datang dan pergi bak tsunami tak terpahami, yang kerap sekali mencipta kekeruhan dan keributan kehidupan di bumi. Biar kami tak gampangan dan entengan menghamburkan tulisan yang terkirim bertubi-tubi, yang serba remang sekali, yang acap palsu-imitasi atau benar-sejati, yang menggelontorkan kecemasan, kebingungan, dan gebalau di tiap sanubari.

Ya Allah yang mahaliterati, melekkan kami terhadap pilin-jalin huruf-huruf yang bertebaran di sana-sini di sekitar kami. Agar kami mampu melihat keaslian atau kepalsuan tulisan, yang menyerbu tak henti, yang bisa menghadirkan ketakpastian kehidupan bersama di bumi, yang bisa menjadikan hidup dipenuhi kegalauan tak terperi. Agar kami bisa memandang kebenaran atau kelancungan yang tersembunyi di ceruk tulisan yang berserakan mengitari kami.

Ya Allah yang mahaliterati, pahamkanlah kami, sadarkanlah kami, terhadap isi barisan huruf-huruf yang berderap kencang menyerbu tak henti di sepanjang hari. Biar kami sanggup mengerti maksud dan makna tulisan yang bergemuruh tak pernah sepi, yang membuat berisik kehidupan indah di bumi. Biar kami bisa membijaki faedah dan mudharat tulisan yang mengepung pikiran dan dada kami.

Ya Allah yang mahaliterati, literasikan kami, mampukan kami membaca dan menulis rapi maknawi. Biar terbuka jendela dunia, yang bersulur hingga sidratul muntaha, dan kami sanggup memandang keindahan bumi. Hingga kami terbebas dari tempurung keterbelakangan dan kekufuran kehidupan ini, yang sesungguhnya penuh rahmat ilahi.

Ya Allah yang mahaliterati, literasikan kami, sanggupkan kami mencerna dan menggunakan huruf-huruf terpuji. Agar kami sanggup merasakan keberkahan dan kenikmatan yang kau beri, yang kau taburkan dalam kehidupan bumi.

Ya Allah yang mahaliterati, literasikan kami, sadarkan budi, beningkan nurani. Biar kedamaian semesta bisa kami usahakan tak henti, dengan sari-sari literasi rabani. Biar kelancungan bisa terusir jauh sekali, tak bisa merusak keindahan hidup yang kau beri, yang sudag menghanyutkan kami ke dalam lautan harum surgawi.

Ya Allah yang mahaliterati, batinkan literasi di jiwa kami, kekalkan kesadaran naca-tulis di detak nadi kami, biar jiwa kami mampu merangkai tulisan yang serupa perahu Nuh yang menyelamatkan kehidupan bumi, yang kini sedang diharu-biru banjir bandang informasi tak pernah henti.

Ya Allah yang mahaliterati, pahatkan literasi di sepanjang takdir yang kau beri. Biar kedamaian semesta bisa kami usahakan tak henti dalam detak kehidupan insani. Biar semua manusia mampu mengusahakan kemuliaan diri, seperti terjanji dalam aksara-aksara kitab suci. Biar kelancungan dan kebohongan tak punya tempat di keindahan hidup yang kau beri, dan paras baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur tergelar di bumi.

Amin.

Setelah kami berkemas, merapikan buku dan hendak pulang, teman-teman selalu bilang “minggu besok masih tetap disini?” Itu kode sebenarnya, bahwa yang datang ke lapak kami hanyalah empat orang (sepi). Kita bersepakat, mencari tempat yang sekiranya ramai pengunjung entah mereka yang datang sebenarnya bukan untuk mengunjungi kami, tapi untuk jalan-jala pagi, berfoto ria, berolahraga atau menghirup udara segar. Dengan pedenya kami mencuri perhatian mereka untuk melirik buku-buku yang kami gelar, dengan terpaksa atau suka ria mereka akan mampir dan kami mengajak ngobrol, akhirnya pengunjung duduk dan kami sodorkan salah satu buku, mau gak mau mereka akan membuka buku dan membacanya dengan terpaksa. Maksud dan tujuan kami memang baik tapi alangkah lebih bahagianya, jika kami menjumpai pengunjung yang bertanya “ada buku puisi Tengsoe Tjahjono?” atau “ada buku cerpen surat dari praha?” setidaknya pengunjung mengenal buku dan penulis yang tinggal di kota Malang.

Kami belum sampai kesitu, untuk membuat para pembaca tahu, pandai dan mengerti siapa saja penulisnya. Kami hanya bersuka ria, bertegur sapa dengan mereka yang mau melihat kami membawa buku untuk dibaca, itu saja. Dua tahun berjalan tebar baca gubuk tulis, hanya bisa mengajak dan terus mengajak “Ayo membaca” seperti kampanye yang tak pernah kunjung datang pemilihan. Mungkin suatu hari merekalah yang bosan melihat kami dan jadi mengerti bahwa buku memang ada untuk dibaca.

Teman-teman tercinta yang selalu mempunyai energi berlebih, selalu berkorban untuk bangun pagi di hari Minggu seperti, Muis, viki, bahru, bily, najib, sukaria ngelapak akhirnya menjadi candu untuk berkumpul bersama adik-adik dan para pengunjung lainnya, karena ketika kita tidak ngelapak selalu merasa rindu seperti merindukan kekasih.

Tebar baca yang kami lakukan di tahun yang beberapa saat lagi akan berganti 2018, tidak akan ada yang berkurang dan akan bertambah kreativitas kami untuk menyuguhkan yang menarik lagi dari buku-buku yang tak bisa didiamkan saja. Catatan kami tetang tebar baca tidak terlalu menarik karena yang kami lakikan bukan semacam konser atau apalah yang akan terkesan dalam hati, tapi pembaca bagi kami akan selalu berkesan dan tak bisa kami Lupakan.

Sampai jumpa lagi, sampai membaca lagi, sampai, sampai yang tak terhingga. kami membuka saran agar kami dapat terus bergerak lebih progresif dan semangat kedepannya. Sebar dan datanglah bergabung bersama kami di “tebar baca gratis” setiap hari Minggu di taman-taman yang ada di kota Malang.

Salam,
Menuaikan tinta-tinta keabadian (Gubuk Tulis)

 

1 COMMENT

  1. Karena hari ini anak-anak lebih sibuk membaca status dan chat di gadgetnya daripada membaca buku.
    Membaca tulisan ini saya jadi ingat pesan senior saya sewaktu kuliah dulu, katanya “Tujuan anak sekolah ialah untuk mengerti bukan untuk pandai. Nyatanya banyak anak yang pandai membaca huruf-huruf dan angka-angka tetapi ia buta dengan huruf dan angka dalam moral.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here