Kreatifitas adalah hal yang asyik dan tiada habisnya untuk diperbincangkan. Kreatifitas yang menjadi fokus kali ini adalah kreatifitas dalam hal kepenulisan atau kepengarangan – proses menarasikan keabadian melalui tulisan. Dunia kepenulisan menjadi salah satu produk kreatifitas yang tidak bisa dilepaskan dari unsur penulisnya, serta memiliki nilai atau sudut pandang dalam melihat dunia agar lebih bijaksana. Dalam makalah workshop menulis kreatif, 2017, Agus Noor mengatakan bahwa menulis adalah kemampuan otak untuk bernalar, membangun logika dan membangun imajinasi.

Kemarin, fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya tengah menggelar konfrensi internasional Bahasa, Literasi dan Budaya yang bertema “Promosi Literasi Kreatif di Era Digital”. Konfrensi dihadiri oleh Bart Barendregt dari Leiden University, Tg. Nor Rizan Tg. Mohd Ma’asum dari Universiti Kebangsaan Malaysia, Hamamah dari UB, Nanang Suryadi; aktivis siber literasi, Yusri Fajar; penulis dan Agus Noor; penulis. Acara tersebut diawali dengan dialog skala besar membincang tema yang general mengenai bahasa, literasi dan budaya. Selanjutnya, terdapat dua kelas kecil yang terdiri dari kelas menulis kreatif dan budaya literasi. (24/09)

Saat itu, penulis hanya mengikuti kelas menulis kreatif, bersama Agus Noor dan Yusri Fajar. Mereka adalah penulis nasional yang telah memiliki banyak karya dalam hal kepenulisan. Penulis sangat tertarik dengan kelas itu, untuk mengetahui proses menulis kreatif yang renyah dan tajam.

Agus Noor menyampaikan banyak hal dalam pengantar kelasnya. Tugas pertama pengarang bukan melamun, tapi merefleksikan atau menanggapi kondisi di sekitar, dengan demikian pengarang bisa memaknai sastra dengan terbuka – karena sastra adalah bagaimana cara kita memandang hidup. Selain itu, dalam hal kepengarangan, jangan bilang kita tidak memiliki ide, sebenarnya kita hanya malas saja, karena pengarang yang baik tidak melulu menunggu ide. Pengarang yang baik adalah ia yang bisa membuka diri dan melihat sesuatu untuk direnungkan, dari mana saja.

Agus Noor menambahkan, kunci dari menulis adalah mempraktekannya secara langsung. Teori menulis hanya “penting” untuk menjadi gambaran atau rujukan, tidak pernah menjadi paling penting, bila tidak pernah dipraktikkan, dengan praktik secara langsung, gaya akan ditemukan. Karena setiap penulis pada dasarnya memiliki karakter yang terbentuk oleh pengalaman hidupnya, pandangan hidupnya, sikapnya, ideologinya; yakni bagaimana ia memandang dunia. Maka, saat menulis sebuah cerita, engkau pada dasarnya sedang mencoba meyakinkan pembaca terhadap dunia yang kamu lihat, kamu yakini, kamua anggap “baik”.

Selanjutnya, Yusri Fajar menjelaskan perihal dorongan menulis. Dorongan menulis berawal dari dua aspek, aspek internal dan eksternal. Aspek internal adalah dorongan dari diri sendiri, atau proses idealis, karena menulis adalah sebuah kesadaran untuk menjaga kalau kita memiliki kepekaan. Berbeda dengan dorongan eksternal, dorongan ini bersifat pragmatis, seperti halnya menulis karena dorongan mengikuti kompetisi atau tugas kuliah. Keduanya adalah dorongan yang sah dan wajar terjadi. Dalam menulis, ide yang kita peroleh perlu kita tulis langsung, biar tidak lupa.

Kita perlu memahami aspek yang kita tulis dalam proses kreatif. Mulailah menulis dari hal yang sederhana, dari apa yang kita lihat atau kita pikirkan. Tambah Yusri Fajar sebelum menutup sesi pengantar.

Sastra yang baik atau menarik menurut Agus Noor ialah; karya sastra yang tidak biasa dipikirkan orang lain, memberikan cara pandang lain dari apa yang kita hadapi, berimbang, memberi cara pandang baru, memberontak, aktual dan reflektif. Sastra adalah dunia kemungkinan yang membuat kita kaya bathin.

Bebarapa hal ditanyakan oleh peserta, bagaimana cara menarasikan karya sastra yang epik tapi tetap menggelitik dan cadas? Yusri Fajar menanggapi dengan memberikan contoh karya sastra Pramodya Ananta Toer, dalam karyanya yang berjudul Di Tepi Kali Bekasi, dalam cengkraman kolonialis, Pram masih menyisipkan narasi romantis dan metafora di dalamnya. Begitu pula dengan Dawuk karya Mahfud, di latar agraris masih terdapat narasi romantis yang tetap menonjolkan budaya lokal penduduk agraris. Ada beberapa catatan agar prosa yang kita buat tidak terkesan kaku, di antaranya membuat prosa yang tidak biasa (defamiliarisasi) dan memainkan majas/ perumpamaan.

Langit bertambah petang, detik jam terus berjalan dan menunjukkan waktu istirahat. Agus Noor menutup kelas dengan dorongan menulis yang menakjubkan. Agus Noor mengatakan bahwa menulis itu bukan soal apa yang kamu ceritakan, tapi apa yang akan kamu ceritakan. Lupakan semua teori menulis – mulailah menulis, menulis dan menulis! ( Al Muiz Liddinillah )

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here