Berkat Sabun, Gagal Ganteng Maksimal

0
455

Aku punya tiga kawan (tak mau disebut namanya) saat kuliah kemarin, kebetulan kisah asmara mereka tak menarik untuk diperbincangkan, haha, tapi mereka punya kebiasaan yang asik untuk kita perbincangkan, kebiasaan itu adalah suka ganti-ganti sabun muka, tujuannya tak lain tak bukan agar kulit bebas minyak, jerawat dan noda hitam. Apalagi ada produk-produk terbaru, pasti mereka akan segera mencoba, namun mereka memilih produk sabun yang tak sama. Sebut saja si A dia lebih memilih memakai produk dari Men Birore, katanya biar ganteng maksimal kayak Al Ghazali yang mukanya bebas minyak. Lalu si B memilih produk Garrnier Men, biar kayak Joe Taslim yang mukanya bebas noda hitam dan maco. Dan yang terakhir memilih produk dari Pon Men, Biar Kayak Rio Dewanto yang punya muka bebas Jerawat, Kebetulan temenku si C ini tak punya kumis, jadi saat dia bilang biar mirip Rio Dewanto, aku iya iya aja.. heuheu-

O iya, sebelum kisah ini aku tulis, aku sudah izin ke mereka dan mereka bersedia, jadi kita sekarang sedang tidak ghibah,, hehe. Dan apakah kalian punya teman macam ini?

Untuk mahasiswa atau siswa SMK yang punya pengalaman magang di pabrik sabun sudah tahu lebih dahulu, bahwa sebenarnya yang dikontrol kulaitas paling utama dari sabun bukanlah kandungan ekstrak wasabi, arang aktif atau senyawa nano-nano yang katanya memiliki teknologi membuat manusia tambah ganteng itu. Tapi tak lain tak bukan adalah uji surfaktan.

Surfaktan adalah senyawa utama dalam segala jenis sabun. Mulai dari sabun untuk badan, muka, rambut sampai untuk baju. Secara kasat mata surfaktan itu berada di buih-buih sabun yang kita kenakan air. Dan fungsi utama surfaktan adalah untuk mengangkat kotoran saat kita mencuci atau mandi.

Bagaimana kerja surfaktan dalam membersihkan kotoran bisa dipahami saat kita juga kenal konsep kepolaran senyawa kimia. Kepolaran adalah kecenderungan senyawa kimia memiliki kutup dipole.

Hop hop hop, ini apa sih, kok ada kutup dipol, polar, senyawa kimia. Gak jadi ganteng kayak Al, ini malah pusing.

Hahaha.. oke oke. Jadi begini, pada beberapa minggu yang lalu kita sudah membahas bahwa seluruh alam semesta ini terdiri dari barang kimia, tinggal ada yang memiliki sifat tak berbahaya bagi tubuh seperti karbohidrat pada nasi atau yang berbahaya seperti arsen pada makanan pak Munir. Nah, bahan kimia juga punya sifat-sifat lain. Salah satunya adalah sifat kepolaran. Polar adalah suatu kejadian dimana senyawa kimia memiliki arah tarikan ke salah satu atom. Kita bayangkan dengan contoh ini, Fahri adalah satu buah atom, Aisha juga satu buah atom, saat kedua atom ini berikatan mereka menjadi molekul, atau kita sebut kedua atom tersebut pacaran. Karena interaksi Fahri dan Aisha memiliki sifat patriarki, tarikan lebih masuk ke Fahri, alias hubungan mereka tak seimbang. Jadi saat ada molekul yang salah satu atomnya memiliki sifat misoginis alias menang dewe dan suka menarik atom-atom yang lain, di sana terjadi tarikan atau dalam atom terjadi momen dipol.

Nah sekarang, air yang kita minum, mandi, dan cebok ternyata memiliki sifat polar, alias ada tarikan ke salah satu atom. Air yang memiliki susunan (H-O-H) ternyata menghasilkan tarikan ke atom O, jadi atom O ini menarik 2 atom H di sekitarnya. Tapi tenang, meskipun atom O pada air memiliki sifat misoginis seperti contoh di paragraf sebelumnya, tidak akan membuat peminum air menjadi orang yang misoginis dan mulai menjamurnya sifat patriarki atau matriarki.

(Karena terlalu banyak minum dan mandi mengunakan air, yang salah satu atom penyusunnya suka mendominasi atom yang lain, seorang perjaka paruhbaya mendadak jadi manusia misoginis, dari sekarang stop minum dan mandi mengunakan air) Ini teori konspirasi apa lagiii…. huhu

Molekul juga ada yang memiliki sifat non polar, alias tak ada salah satu atom yang menarik atom lain pada susunan molekul. Jadi hubungan antar atom-atom penyusun molekul berlangsung dengan seimbang.

Sifat-sifat yang lain adalah kecenderunga berkumpul molekul. Mungkin ini juga sama pada kecenderunan berkumpul manusia. Molekul memiliki kecenderungan lebih suka berkumpul dengan sejenisnya. Untuk molekul polar hanya akan mau berkumpul dengan senyawa polar lain. Dan senyawa non polar juga demikian. Mirip-mirip dengan manusia kan, manusia berkumpul sesuai minat, misalnya komunitas musik atau komunitas seni rupa. Ya kek gitu lah.

Teman-teman tentu masih ingat dengan fenomena yang membuat kita tak bertanya-tanya lagi apa penyebabnya karena terlalu sering bertemu, bahkan sering juga dipakai untuk sajak-sajak. “mereka tak akan bisa bersatu bak air dan minyak” uhhh. Sudah mulai menebak kenapa air dan minyak tak bisa bersatu? Yap. Karena mereka beda sifat. Air memiliki sifat polar, kalau minyak sifatnya non polar. Sehingga mereka jarang bertegur sapa apalagi berjuma dan kongkow bersama.

Setelah agak nyambung dengan konsep tarik menarik pada atom, kita masuk ke surfaktan yang sempat dicuekin beberapa saat. Ternyata eh ternyata, surfaktan memiliki 2 sifat. Surfaktan adalah senyawa kimia yang panjang dan pada kedua ujungnya memiliki sifat yang berbeda, salah satu ujung surfaktan memiliki sifat polar dan satunya memiliki sifat non polar. Dan dengan konsep berkumpul tadi, ujung polar pada surfaktan berinteraksi dengan air sementara sisi non polar dari surfaktan mencari teman dengan minyak-minyak yang menempel pada kulit. Sehingga saat sabun sudah melumuri tubuh, sebenarnya surfaktan sedang bercumbu dengan air yang membawanya nyampek ke kulit dan di sisi yang lain mencari lemak yang nempel di kulit. Lalu kemesraan mereka segera berlalu saat diguyur air untuk membersihkan sabun dari kulit. Lemak yang semula menempel pada kulit dan membuat kita merasa lengket, tanggal sudah karena bermesraan dengan sisi non polar surfaktan alias sabun.

air dan minyak
air, minyak dan surfaktan

Dua gambar di atas ialah Air dan Minyak yang tak bisa bersatu. Selanjutnya, ada surfaktan yang bisa mesra dengan air dan minyak, seperti Mahbub Junaidi yang bisa berkawan dengan GM dan Pram yang berseberangan

Seeekkkk,, hop hop hop.. kalau yang bekerja utama pada sabun adalah surfaktan, kenapa iklan tak pernah menyebut benda satu ini. Malah cumak bilang sabun ini mengandung arang aktif yang akan mengangkat kulit mati dari wajah anda, dan seketika walaaa anda jadi ganteng maksimal bak Al Ghazali

Ya namanya juga iklan, mestilah memunculkan inovasi-inovasi saja. Kalau semua produk sepakat hanya bilang surfaktan, yo kapital runtuh bosque. Emang ada iklan motor “Belilah motor ini, karena hanya dengan Pertalite, motor ini bisa mengantar anda Hijrah ke Malang” atau iklan sepatu “Dengan memakai sepatu ini, pasti anda tak dicap nyeker”. Kayaknya di mana-mana iklan hanya menyebutkan inovasi yang membedakan satu produk dengan produk lainnya.

Jadi, setelah menimbang, mengingat, memperhatikan dan seterusnya. Saya memutuskan bahwa ketiga teman penulis hanya terkecoh oleh kandungan minor dari sabun muka, karena mereka bertiga sejatinya sama-sama membeli surfaktan, hanya saja dengan merek yang berbeda. Sehingga kenapa aku juga tak kunjung ganteng maksimal, ya karena cikal bakal diriku tak seindah cikal bakal Al Ghazali. heuheu

Tak ada yang salah dengan kita memilih produk ini-produk itu karena alasan inovasi masing-masing merek. Seperti juga dengan memilih buku, semuanya terdiri dari aksara dan tertulis di atas lembaran kertas yang sama. Tapi ada buku yang menawarkan kisah-kisah dalam novel, hasil penelitian sampai artikel kompilasi. Yang penting kita hidup wajar saja. Menukil kata Gus Mus “Urep iku cukup sak madyo” butuh sabun yang menawarkan anti jerawat, ya beli sabun anti jerawat. Asal selepas cuci muka gak ndusel-ndusel ke tanah lagi. Toh sejatinya muka itu sudah punya karakteristik masing-masing. Ada yang berminyak, kering, mudah berjerawat, kemerahan dan lain-lain. Yang diperlukan hanya bersyukur. Alhamdulillah

Wallahu A’lam

Uhuk, macak alim bosque

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here