Mari belajar dari siapa saja. Di mana saja dan dari apa saja. Bukankah belajar itu boleh ke mana saja? Yang penting tetap belajar. Pada setan sekalipun kita bisa belajar. Pada malaikat juga boleh untuk belajar.

Kali ini saya akan belajar pada Rocky Gerung. Seorang ilmuan yang namanya sedang banyak diperbincangkan. Bahkan, ada pihak yang melaporkannya ke polisi.

Bung Rocky itu seorang pengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia yang juga merupakan seorang peneliti Perhimpunan Pendidikan Demokrasi. Dia lahir di Manado pada 20 Januari 1959.

Dia menempuh studinya di Universitas Indonesia pada tahun 1986 dan memperoleh gelar sebagai sarjana sastra Universitas Indonesia. Sangat aktif menulis di berbagai media massa.

Sejak tahun 2006 menjadi fellow pada sebuah Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) dan turut mendirikan SETARA Institute pada tahun 2007, sebuah perkumpulan yang di dedikasikan bagi pencapaian cita-cita dimana setiap orang diperlukan setara dengan menghormati keberagaman.

Komentar-komentar Bung Rocky sering mengundang diskusi lebih dalam. Misalnya saat berbicara di ILC pada Januari 2017. Dia membahas tentang hoks. Menariknya, dosen berkacamata itu mengungkapkan pembuat hoks terbaik adalah penguasa. Alasannya, penguasa memiliki seluruh peralatan untuk berbohong. Intelijen, kata dia, pemerintah punya, begitupun data statistik dan media.

“Tapi itu faktanya. Hanya pemerintah yang mampu berbohong secara sempurna,” kata dia yang disambut riuh tepuk tangan orang di dalamnya.

Jika dipikir, apa yang disampaikan Bung Rocky memang ada benarnya. Soal piranti yang dimiliki penguasa lebih baik dibandingkan rakyat biasa.

Itu pernyataan tahun lalu. Pendapat bung Rocky selalu punya dasar bagi saya. Tidak sekedar ulasan saja. Mari kita telisik lagi pendapatnya tentang keberpihakannya terhadap kaum minoritas.

Di Rappler Maret 2016 bung Rocky berpendapat masyarakat kini, tak menilai seorang individu dari seberapa sering mereka menolong tetangga atau seberapa besar pajak yang dibayar.

“Tetapi oleh kesolehan sosial ditentukan yaitu seberapa banyak dia berdoa,” kata Rocky seperti ditulis Rappler.

Nah, di tahun ini kalimatnya yang muncul dijadikan perdebatan. Saya memilih dijadikan karena memang ada yang sengaja mendebatkan dan membuatnya jadi bola panas. Penyataan kitab suci itu fiksi membuat sebagian orang tidak terima lantas melapor ke polisi.

Saya telah melihat cuplikan tentang apa yang disampaikan Rocky Gerung di acara ILC itu. Apa yang disampaikan cukup berhati-hati. Penekanan definisi fiksi pun terus diulang. Perbedaan fiksi dan fiktif pun dipertegas. Hingga tentang perbandingan kata. Soal realitas dan fakta. Termasuk saat memilih kata kitab suci. Tanpa menyebut itu kitab suci apa. Bahkan, saat ditanya oleh salah satu politisi tentang kitab suci yang mana Bung Rocky pun mencoba untuk tetap memilih kalimat yang sama.

Saya bukan agamawan. Jadi saya tak akan membahas kitab suci. Saya lebih senang dengan belajar. Seperti yang saya sampaikan di awal tulisan ini. Saya sedang belajar bersama Rocky Gerung. Meski orang lain ada yang tidak sepakat.

Tentang bagaimana seorang Rocky menjelaskan soal apa itu fiksi. Sebagai awam orang akan selalu membuka KBBI untuk mencari makna kata fiksi. Begitu juga fiktif.

Bung Rocky menilai ada salah kaprah dalam menyebut fiksi. Sebab, orang akan mengira fiksi itu adalah fiktif. Apalagi diucap dalam ruang-ruang politik. Jadilah, fiksi itu menjadi buruk. Menurut Rocky, fiksi adalah energi untuk mengaktifkan imajinasi. Jadi, fiksi itu baik.

Hal ini menarik. Sebab, daya imajinasi inilah yang mendorong orang tetap hidup dan berkembangnya peradaban. Jadi, fiksi menjadi salah satu penolong kehidupan manusia. Fiksi memang berbeda dengan kebohongan. Sebab, kalau kata Puthut EA, smartphone yang ada di tangan kita saat ini berawal dari sebuah imajinasi. Orang sedang berimajinasi tentang bagaimana bisa berbicara jarak jauh. Lalu munculkan smartphone

Kita sudahi soal fiksi.

Rocky telah menggelitik otak kita dan pengetahuan kita soal fiksi. Setidaknya, orang akan belajar lagi tentang makna fiksi dan imajinasi lebih dalam lagi. Membuka lagi buku filsafat dan karya lainnya.

Jika semua dipandang dalam konteks belajar tidak akan ada lapor melaporkan. Termasuk puisi. Negara kita sedang gandrung dengan saling lapor melaporkan. Bukan sedang belajar. Apa mereka yang sedang saling melapor itu sedang memegang kuat bahwa negara kita adalah negara hukum. Jadi, merespon orang harus dengan hukuman.

Ayolah, kita sudah capek berurusan dengan polemik. Mari menjadi bangsa pembelajar. Yang selalu menghargai potensi anak didik saat menyampaikan pendapatnya. Bukan menghukum anak murid kita jika berseberangan dengan pendapat kita.

Begitu juga berpolitik. Berpolitiklah sebagai bangsa pembelajar. Yang setiap strategi pemenangan bukan untuk menjatuhkan dan membunuh karir lawan. Melainkan, untuk saling belajar tentang kehidupan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here