Oleh: Farid Muttaqin *

Salah satu perubahan penting yang semakin menguat dalam kehidupan keagamaan masa kini adalah agama yang semakin cenderung profan dan ‘meninggalkan’ kesucian (sacred aspects). Agama semakin “sosiologis, antropologis, politis, dan ekonomis.” Perubahan ini tidak lepas dari ‘ketidakmampuan’ agama berhadapan dengan sistem sosial lain yang dalam kehidupan sekarang menjadi sistem yang semakin dominan. Salah satu yang paling kuat dan dominan adalah kapitalisme.

Kapitalisme memodifikasi agama sebagai komoditas bernilai ekonomi. Maka, ceramah agama menjadi entertainment sejajar dengan acara gosip, dan penceramahnya menjadi seleberiti sejajar dengan artis. Ziarah ke tempat suci (hajj atau pilgrimage) menjadi perjalanan turisme dengan ‘spritualitas’ sebagai ‘side’ — kecap, saus, dan sejenisnya yang ditempatkan di sisi makanan utama. Ziarah ke tempat suci tidak jauh beda dengan ziarah ke air terjun atau ke Disney World. Sementara menutup aurat adalah kegiatan fashion, serupa memakai jeans dan boot. Agama benar-benar nyata sebagai kegiatan profan, bukan kegiatan spiritual. Teologi dalam agama ‘berubah’ pada hal-hal profan: identitas sosial dan soal kelas. Demikianlah, kekuatan kapitalisme mengubah (shift), membentuk (shape) dan memodifikasi orientasi keagamaan kita.

Menguatnya politik agama kontemporer –artinya, sejak pra sejarah politik agama sesungguhnya sudah berkembang– juga menjadi salah satu faktor kuat di balik agama yang semakin profan. Politik agama menjadikan agama melulu sebagai politik: alat dan tujuan; politik agama, meski membawa berbagai aspek agama –termasuk aspek teologis dan spiritual– sama sekali tidak mempunya orientasi ‘menjaga’ aspek sacred agama; politik agama secara jelas mengubah dan membentuk agama melulu sebagai hal profan.

Dalam situasi perubahan demikian, tantangan berat dihadapi oleh para ilmuan agama (ulama) yang sering membangun argumentasi untuk banyak persoalan, baik yang berhubungan dengan agama maupun di luar agama, dengan rujukan atau referensi agama, baik tekstual maupun historis. Argumentasi dengan rujukan agama, di tengah agama yang semakin profan, menurut saya, menjadi argumentasi yang semakin tidak solid dan tidak stabil. Argumentasi apapun akan ‘muspro’, karena dalam kecenderungan profan yang semakin kuat, aspek sacred meski bersumber dari teks suci sekalipun sulit menghadirkan ‘kepercayaan’ meyakinkan; cara berpikir kita lebih ditentukan oleh cara berpikir kapitalisme dan ‘politik agama.’

Menurut saya, dalam situasi ini, aspek profan agama akan bisa ‘bertahan’ jika kita mulai membuka pikiran untuk mempertimbangkan argumen-argumen sosial juga ‘profan,’ yang melampui teks suci –termasuk kisah-kisah (tarikh) keagamaan. Misalnya, dalam kasus poligami, sebagai contoh yang sederhana. Para ulama feminis berusaha melakukan tafsir ulang ayat-ayat al-Quran tentang poligami, menghasilkan argumen ‘ketidakhalalan’ poligami. Argumen lain merujuk pada “sejarah poligami Nabi,” menunjukkan fakta historis Nabi berada dalam kehidupan monogami lebih lama, 28 tahun, dibanding poligami yang “hanya” 8 tahun. Namun, dalam konteks menguatnya politik Islam saat ini, poligami justru dipandang menjadi identitas keislaman yang harus disyiarkan, bagian dari membentuk masyarakat Islam yang kaffah. bahkan, pengaruh kapitalisme memodifikasi “poligami islami” sebagai sumber bisnis baru. Argumen akademik ala ulama feminis itu ‘menguap’ karena respon yang lebih mengedepankan aspek ‘politik Islam.’

Karenanya, membangun argumen untuk menekankan bahwa praktek poligami kontemporer bukan Islam –tapi politik dan kapitalisme– menjadi sangat penting. Daripada merujuk teks suci, perubahan sosial perlu dilihat lebih intensif dalam membangun argumen ini. “Tafsir” tentang keadilan yang sering menjadi sumber debat dalam poligami juga perlu merujuk perubahan sosial ini. Misalnya, mengapa di jaman Nabi, poligami dnilai tidak mempunyai persoalan terkait ketidakadilan? Situasi sosial apa yang membuat poligami tidak bermasalah dari segi keadilan? Di antaranya, karena prinsip freedom bagi perempuan di masa itu juga berbeda dengan freedom di masa sekarang. Dulu, domestikasi bisa diterima secara ikhlas; sekarang, perempuan memiliki prinsip kebebeasan yang setara dengan laki-laki, yang membuat domistikasi atau ‘penundukan’ lain atas dasar gender bukan saja sulit dilakukan, tapi melanggar prinsip kebebebasan yang saat ini berkembang. Ini sekedar contoh.

Akhirnya, meski sulit, penting menekankan pemikiran bahwa agama merupakan hal yang tidak kebal (immune) dari perubahan, Karena tidak kebal dari perubahan, agama sendiri mengalami perubahan; banyak praktek keagamaan dalam sejarah yang berubah menjadi sama sekali bukan agama.

*Penulis telah menyelesaikan program doktor antropologi di Binghamton University

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here