Menjamurnya cafe di kota Malang ikut memiliki sumbangsih pada perkembangan komunitas literasi yang kian subur di bumi arema. Bagaimana tidak, kongkow-kongkow menjadi urat nadi dari racikan kopi sebagai sesajen sakral berjalannya diskusi yang khidmad dan berkelanjutan.

Kali ini, gubuktulis ingin menegasikan literasi & Digital yang kian berkembang di Kota dengan jargon “Pendidikan” itu. Selaku pegiat literasi gubuk tulis, Al Muiz Lidinillah menginginkan aroma literasi mulai merebak di setiap sudut warung kopi, dengan visi mulia  “Menuangkan tinta-tinta keabadian”. Komunitas yang yang sudah bergeliat selama dua tahun terahir ini ingin terus berbenah dan terus mengembangkan litarasi; dimulai dari membuka lapak peminjaman buku dari taman ke taman, menuangkan ide di web gubuktulis.com dan diskusi rutinan di Oase cafe and literasi.

Sebelumnya, jagongan rutin dilakukan gubuktulis dari warung kopi ke warung kopi. Semangat belajar mengabadikan setiap diskusi bisa dilihat dari web yang merekam setiap inci aktivitas kongkow gubuktulis. Hingga kini, komunitas gubuktulis memiliki rumah Oase Cafe dengan beragam komunitas; gusduruan, kota tua, duta damai dan perempuan bergerak.

Jagongan dengan tajuk “Meneropong Literasi kota Malang” mengawali tahun 2018 akan menjadi arah literasi gubuktulis. Tak tanggung-tanggung di hari ke empat 2018 itu gubuktulis menyandingkan presidium Gusdurian Jawa Timur, Kristanto Budiprabowo dan Pro. Djoko Saryono, penulis dan Dosen Universitas Negeri Malang yang sudah malang melintang lintas komunitas litarasi.

Arah Literasi

Kemudahan akses literasi saat ini tidak bisa dinafikan dari berkembangnya media dan ponsel pintar yang menyuguhkan kebutuhan secara privat. Namun pertanyaannya kemudian, kekayaan litarasi apa yang dapat disuguhkan dan memiliki imbas baik pada masyarakat?. Refleksi yang disuguhkan Romo Tatok, sapaan akrab budayawan kota malang itu harus menjadi bahan renungan bersama.

Kilas balik arah literasi yang kini berkembang harus dipandang dari bagaimana pendidikan kita mendikte pikiran-pikiran kita dengan sekat keseragaman. Diakui atau tidak, pendidikan yang menjadi arus utama pencetak generasi bangsa saat ini masih menyeragamkan banyak hal dan ogah dengan perbedaan.

Belajar dari fenomena ini, kita patut belajar pada pesanten tradisional yang erat dengan budaya literasi leluhur dan membuka diri pada keberagaman. Tradisi pesantren menelurkan semangat keberagaman tersebut dengan memperbolehkan setiap santri untuk memilih mursyid yang dianggap mumpuni keilmuannya. Romo tatok mengutip statement Agus Sunyoto “Bagaimana mungkin kita dapat membangun kesadaran kebhinekaan sementara sistem pendidikan yang dibangun terus mengarah pada penyeragaman?.”

Komunitas pegiat literasi sejatinya, dibutuhkan untuk berjihad melawan arus mainstream pendidikan yang menginginkan penyelarasan dalam berbagai aspek. “Manusia tidak bisa diseragamkan menjadi satu, justru menjaga keberagaman itu perlu, dan ini tugas gubuktulis sebagai komunitas pegiat literasi” pungkas Presidium Gusdurian Jawa Timur tersebut.

Jangan sampai menjadi Ampas Literasi

Kota Malang yang sekarang santer menjadi kota sepak bola, sejatinya memiliki titik sejarah dan cikal bakal literasi yang cukup tua. Kembali saja pada masa kerajaan yang terbilang muda Singosari. Singosari memiliki, Ken Dedes yang merupakan Brahmani putri dari Empu Purwa seorang Brahmana dari desa Polowijen. Seorang Brahmani tentunya memiliki budaya literasi yang sangat kuat, mulai dari tutur hingga tulis.

Kerajaan yang lebih tua sebelumnyapun demikian, wangsa Erlangga dan Kerajaan Kanjuruan secara geografis dekat dengan sungai Brantas, memiliki tata kehidupan masyarakat agraris sangat literat. Masyarakat yang berperadaban dapat dipastikan memiliki budaya literasi yang kuat. Jejak kakawin yang ada masih dapat ditelaah hingga saat ini, namun rupanya. Literasi pada masa itu, bukan hanya berupa tulisan kakawin atau pada daun lontar, namun juga pada kidung dan budaya tutur.

Mengaca pada tokoh yang lebih dekat lagi, Malang memiliki peletak Nasionalis pertama bernama Dowwes Dekker, yang gusar bahkan memilih melawan bangsanya sendiri yang mempekerjakannya  karena penindasan yang ia lihat di kebun kopi.

Dari sejarah dan akar tradisi yang sudah melekat di Malang, literasi di Kota Malang satu nafas dengan perjuangan. Komunitas gubuktulis memiliki tugas untuk melanjutkan perjuangan para literat agar literasi tidak menguap seperti ampas yang bertebaran di media sosial.

Paparan yang disampaikan oleh Prof Djoko Saryono memantik pada pecinta literasi yang berjubel memenuhi lantai satu Oase cafe.

Profesor yang menjuluki dirinya sebagai penggerutu literasi ini menegaskan jika kian digital dan mudahnya akses saat ini memiliki imbas bahaya pergeseran budaya literasi menjadi budaya scroling yang hanya melahirkan ampas-ampas literasi. Komunitas yang berlandaskan akal budi harus segera tanggap dan tidak menjadi followers untuk mencipta ampas yang sama.

Di antara sekian yang hadir, ada wartawan senior tempo Abdi Purnomo yang akrab di sapa Abel. Jurnalis asal medan ini mengatakan semangat gubuktulis harus sama dengan semngat kafetaria di Eropa yang melahirkan tokoh-tokoh besar dan mencerahkan.

Penekanan dari Pesantren. Membangun literasi,  membangun kebhinekaan, Pesantren luhur,  sudah dibiasakan berbeda. itu yg hilang dalam sistem pendidikan kita.  Arah Literasi kita,  semakin terkontrol dan diseragamkan,  atau semakin memberi kebebasan dalam perspektif.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here