Oleh: Nur Fitriani

Gerimis menjadi saksi dilangsungkannya diskusi komunitas perempuan bergerak di oase caffe and lietracy. Salah satu komunitas yang konsen dalam bidang feminis yang ada di kota malang, komunitas ini berusaha mengajak untuk mengetahui dan memahami gerakan perempuan, dengan diskusi diskusi renyah yang dihadirkan oleh perempuan bergerak, dengan harapan diskusi dapat diikuti oleh semua kalangan, karena untuk memahami feminis tidak harus dengan teori teori bahasa ilmiah. Diskusi-diskusi renyah dan ringan juga akan memudahkan kita untuk mengerti bagiamana feminis, keadilan, keberagaman, dan perdamaian.

Kemarin perempuan bergerak mengundang ibu Erma Dyah Christina Retang, beliau adalah seorang aktivis pendamping perempuan korban Lapindo) dan Ibu Ina Irawati yang merupakan Konsultan  Women And Child Crisis Center (WCC) Dian Mutiara Malang. (19/1)

Bu Erma memaparkan kisahnya terlebih dahulu, beliau intens mendampingi korban lumpur Lapindo sejak tahun 2010 hingga 2015, sebenarnya beliau mendampingi sejak tahun 2006, namun 2006 sampai 2010 tidak terlalu intens, masih sering pulang, lalu beliau juga sempat vakum selama 2 tahun karena anak beliau meninggal, dan sekarang mulai aktif kembali.

Lapindo adalah kasus nasional yang jelas-jelas telah menjadi wilayah konflik, dan pendampingan untuk wilayah konflik lebih mudah daripada wilayah damai, karena dalam wilayah konflik lawan dan masalah sudah jelas dan mudah memetakan gerakan, sehingga tidak perlu memetakan kembali, contohnya dalam kasus Lapindo yang sudah jelas karena desa warga yang tenggelam, maka mata pencaharian mereka hilang, sehingga muncul berbagai masalah. Hilangnya mata pencaharian memaksa mereka untuk mencari pekerjaan lain, namun mencari pekerjaan tidaklah mudah. Ganti rugi yang dijanjikan oleh Lapindo pun hanya sekitar 20% yang mendapatkannya, sisanya tidak.

Hal ini diperparah dengan banyak warga yang kemudian mengidap kanker, karena lingkungan sekitar yang tidak sehat, kandungan timbal yang ditimbulkan Lapindo lah yang menjadi pemicu hal tersebut, ketika warga meminta perobatan ke RSUD setempat, rumah sakit tersebut tidak mau lagi menerima pasien yang menggunakan jaminan ganti rugi dari Lapindo, karena Lapindo mempunyai banyak hutang yang belum terbayar, sehingga warga pun tidak bisa berobat secara gratis kembali. Bukan hanya dari persolan ekonomi dan kesehatan, dalam pendidikanpun hal ini berdampak. Mulai tahun 2012/2013 Lapindo sudah tidak memberikan jatah hidup (jadup) kepada warga korban Lapindo, hal itu menandakan bahwa sudah tidak adanya dana penidikan, anak-anak pun tidak bisa mendapatkan dana BOS, karena pemerintah setempat menganggap mereka mendapat jatah dari lapindo, yang terbilang cukup besar, sehingga tidak dianggap sebagai orang miskin.

Untuk mengatasi hal ini, pendamping mendorong warga untuk membuat koperasi simpan pinjam, ada sosok perempuan berpengaruh dalam gerakan pembuatan koperasi simpan pinjam, yaitu mbak Har, sosok yang sangat berani dan penuh semangat, kenapa mbak Har yang bergerak? Bukan aktivis pendamping? Karena mbak har yang mengenal dan dipercaya oleh warga sekitar, jika para aktivis yang bergerak, maka hal itu akan sulit karena orang asing, sehingga sulit mendapat kepercayaan penuh. Koperasi simpan pinjam tersebut dikoordinasi oleh mbak Har, dengan telaten mengkoordinasi warga untuk menyimpan uangnya, uang tersebut hanya boleh diambil untuk keperluan pendidikan dan kesehatan. Selain koperasi simpan pinjam, ibu-ibu yang ada di posko membuat kerajinan tangan yang kemudian dijual dan menghasilkan uang.

Dari sini kita tahu bahwa persoalan utama perempuan bukanlah persoalan politik, sedangkan pengordinasian adalah salah satu bentuk untuk memberikan kesadaran politik bagi yang dikordinir. Untuk pendampingan daerah damai, bisa memakai cara yang dilakukan oleh gerwani, yaitu datang untuk mencari solusi, solusi masalah sehari-hari, misalnya harga cabe naik, tomat naik, apa solusi yang ditawarkan? Menanam tanaman toga. Harga susu naik, yang menentukan harga susu di pasar adalah pemerintah, bagaimana dampaknya?.

Gerwani dalam gerakannya selain mengajarkan keterampilan untuk perempuan juga menyalurkan tentang kesadaran berpolitik, ketika membuat ketrampilan berlangsung, disitulah gerwani menyalurkan ide ide kesadaran politik kepada perempuan. Gerwani mengorganisir hal-hal sepele menjadi hal yang terstruktur, metode untuk mendekati perempuan dengan cara memasuki dunia perempuan memang sangat efektif, dan gerwani memberikan solusi pada masalah-masalah sehari-hari yang dihadapi oleh perempuan, seperti tentang kebutuhan pokok, anak dan sebagainya.

Disambung dengan cerita pengalaman dalam mendampingi penyintas oleh bu Ina sebagai konsultan di WCC menceritakan banyak hal tentang beberapa penyintas yang pernah ia dampingi, mulai dari penyebab hingga dampak dari trauma yang ditimbulkan akibat dari kekeraasan seksual yang dialami.

Bu Ina menambahkan beberapa cerita pada pendampingan di daerah buruh migran, dimana ada relasi kuasa yang menundukkan, musuh kita tidak jelas siapakah yang harus dilawan ketika neo-liberalisme berkuasa.

Apapun gerakan kita, seharusnya gerakan sosial harus tetap bergerak meskipun tanpa funding, dan ketika kita meyakini hal itu benar maka kita harus yakin bisa. Diskusi diakhiri dengan pembacaan puisi Atas Nama Apa karya Mbak Erma, yang dibacakan oleh Istie Hasan, dan pemberian buku antologi puisi dari mbak Erma untuk Perempuan Bergerak;

Atas Nama Apa

Gadis belia itu tergantung kelu
dijerat seutas tali plastik kaku
tak ada lagi akal menanggung malu
hanya itu

Putri

Remaja putus sekolah yang tengah nikmati
indahnya langkah gemulai usia muda
dalam kungkungan masyarakat pongah

Dia nikmati alunan musik kibot malam itu
bersama kawan-kawan perempuan dalam nyanyi
canda tawa dilantunkan
sebelum wilayatul hizbah menghinakannya
dalam tuduhan keji
menjual diri

Putri..

tak tahan harga diri direndahkan
luluh lantak di injak atas nama kesucian tuhan
melepas hidup di tali gantungan

atas nama apa
semua dilakukan
moral
kesucian tuhan
atau sekedar kepicikan manusia

Putri, nak

manusia hinakanMU atas nama tuhan
seolah mereka adalah pemilik tunggal kesucian
pemegang monopoli tuduhan dan sangkaan
pergilah kau mengadu pada khalikmu
katakan padanya apa yang mau kau adukan

kami akan mengenangMU dengan
harga diri remaja belia yang luruh
karna asal tuduh

air mata kami
akan iringi perjalanan panjangMU
pun kami akan berjalan dalam setapak
perlawanan
agar engkau tak di susul putri putri lain

untukmu Putri…Gadis belia korban kepongahan si “penjaga kesucian tuhan” (12912)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here