MALANG- Short Course Penelitian Feminisme Ini bukanlah sekolah biasa. Penyelenggara sekolah ini juga bukan pemerintah. Ya, namanya adalah sekolah penelitian yang diselengarakan tiga komunitas sekaligus yakni Perempuan Bergerak, Gubuk Tulis dan Komunitas Averous.

Sekolah penelitian akan mengajak anak-anak muda di kota Malang dan luar kota, untuk membincang feminisme. Sekolah ini akan digelar di Sekretariat Komunits Averous, Perum Dwiga Regency A3/12–kota Malang pada Sabtu-Minggu (16-17 Desemeber).

“Sekolah ini akan membahas lebih dalam tentang feminisme yang hingga kini tak henti-hentinya dirundung kontroversi. Selain istilahnya yang mungkin asing bagi khalayak ramai, kerapkali feminisme diartikan sebagai perlawanan perempuan atas laki-laki. Padahal tidak seperti itu, kekeliruan inilah yang membuat istilah feminisme tidak membumi,” kata kamituo Gubuk Tulis, Al Muiz Liddinillah dalam keterangan tertulisnya.

Menurut dia, mempelajari feminisme sama halnya belajar tentang kemanusiaan. Istilah populernya, feminisme berarti adalah sharing power, yang berarti tidak mengunggulkan satu pihak, namun antar pihak, bergerak dan berkembang bersama.

Dalam sekolah penelitian ini, peserta yang sasarannya adalah para pemuda diharapkan mampu membedah persoalan sosial dengan kacamata yang adil gender. Apalagi, adil gender dalam masyarakat Indonesia masih dianggap sebagai barang tabu. Bahkan, banyak kaum intelektual yang masih memandang sebelah mata keadilan gender. ”Terlebih, budaya patriarki atau budaya yang cenderung menempatkan laki-laki pada posisi dominan, masih sangat diterapkan pada keseharian kita,” tambah Muiz.

Untuk itulah, tiga komunitas yang bergerak di Malang ini menilai penting sekolah penelitian dengan prisma berpikir feminis diadakan. Kerangka feminisme sangat perlu untuk para peniliti. Singkatnya, peneliti harus memiliki ethic of care (etika kepedulian) dalam memandang permasalahan gender. Analisis gender akan membantu peneliti memiliki pisau analisis feminis yang amat dibutuhkan masyarakat untuk menemukan solusi dan menjadi masyarakat yang madani tanpa adanya diskriminasi pada jenis gender tertentu.

Para peserta sekolah penelitian nantinya akan mendapatkan tiga materi; Materi Paradigma Penelitian, Paradigma Feminisme & Simulasi  dan Metodologi Feminisme. Syarat untuk menjadi peserta cukup dengan mengumpulkan esai bertema “Keadilan sosial” dengan topik; Posisi Perempuan dalam Perkawinan, Kekerasan dalam Media Sosial, Perempuan dalam Budaya dan Masyarakat Adat, atau isu-isu lain yang masih relevan.

Menariknya, esai-esai terpilih akan dikompilasi dan menjadi buku. Komunitas Perempuan Bergerak, Gubuk Tulis dan Komunitas Averoes selaku penyelenggara juga berkomitmen untuk menjadikan para peneliti cinta akan literasi.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here